RADARMAGELANG.ID, Temanggung -Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Sumbing wilayah Kabupaten Temanggung mulai terkendali.
Pada Sabtu (24/10/2026) pukul 13.45 WIB, tim penanganan melaporkan sudah tidak menemukan titik api maupun asap di kawasan yang sebelumnya terbakar.
Tim gabungan pun mulai berangsur turun (gunung) setelah kondisi dinilai kondusif.
Kendati demikian, pemantauan tetap dilakukan.
Hal itu menjadi perhatian untuk memastikan kondisi kawasan Gunung Sumbing benar-benar aman.
Baca Juga: Kebakaran Gunung Sumbing Meluas hingga 779,4 Hektare, 50 Persen Savana Terbakar
Sebelumnya, titik api sempat terpantau di sejumlah petak hutan wilayah Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Bahkan, muncul kembali setelah tim melakukan pemadaman pada Jumat (23/10/2026).
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengatakan, pada Sabtu (24/10/2026) pagi, dirinya mendampingi relawan dan sejumlah unsur terkait di basecamp Dukuh Seman, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu.
Ia memantau penanganan kebakaran.
Agus menyebut, informasi dari petugas di Pos 5 Gunung Sumbing pada Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 13.45 WIB, menyebutkan api telah padam.
Namun, kondisi keamanan di lapangan masih terus diperbarui berdasarkan pemantauan tim.
“Alhamdulillah, tadi sekitar pukul 13.45 dari Pos 5 yang ada di atas Gunung Sumbing sudah dinyatakan padam. Tingkat keamanannya masih kami pantau terus,” ujarnya Sabtu.
Meski demikian, masih ada sekitar 80 relawan masih bersiaga di Pos 3, Pos 4, dan Pos 5 Basecamp Bimawari Dukuh Seman.
Agus berharap, proses penanganan dapat segera dituntaskan.
Ia juga optimistis ini menjadi hari terakhir pemadaman titik api.
“Semoga ini hari terakhir teman-teman bareng-bareng memadamkan api. Tapi saya optimis hari ini selesai (pemadaman api),” harapnya.
Berdasarkan laporan penanganan kebakaran hutan Gunung Sumbing, perambatan api terjadi melalui dua sektor.
Yakni sektor utara di Kecamatan Kledung dan sektor selatan di Kecamatan Selopampang.
Di sektor utara, api merambat dari kawasan jalur pendakian Garung-Wonosobo menuju jalur pendakian Batursari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Sementara itu, di sektor selatan, api merambat dari kawasan jalur pendakian Butuh, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, menuju Petak 27 di wilayah Desa Tanggulanom, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung.
Pemantauan di kawasan Batursari telah dilakukan pada Selasa (20/10/2026).
Sehari kemudian, Rabu (21/10/2026), titik api mulai memasuki wilayah Temanggung.
Tim selanjutnya melakukan pemadaman dari Batursari dengan fokus utama mengamankan sumber mata air yang digunakan warga.
Pada Kamis (22/10/2026), sebanyak 55 personel melakukan pemadaman dan penyekatan di batas vegetasi dari kawasan basecamp Banaran-Tembarak.
Tim bekerja di atas Pos 3 dan membuat sekat bakar sepanjang 20 meter untuk menghambat perambatan api.
Pemadaman juga dilakukan melalui jalur Butuh, Kaliangkrik, menuju Pos 3.
Pada hari yang sama, api di Pos 4 dilaporkan telah padam.
Namun, titik api baru kemudian terpantau di wilayah RPH Kecepit, BKPH Temanggung, KPH Kedu Utara, yang secara administratif masuk Desa Batursari, Kecamatan Kledung.
Kebakaran tersebut berada di kawasan Petak 20 C dan Petak 20 D, yang merupakan kawasan hutan lindung. Yakni dengan vegetasi rimba campur dan savana.
Petak 20 C memiliki luas baku 64,10 hektare. Sedangkan Petak 20 D seluas 46,90 hektare.
Angka itu merupakan luas petak kawasan. Buoan angka yang dapat langsung dipastikan sebagai luasan yang terbakar.
Selanjutnya, pada Jumat (23/10/2026), titik api terpantau di sejumlah petak. Yakni Petak 20 A seluas 75 hektare, Petak 20 C seluas 32,05 hektare, Petak 20 D seluas 23,45 hektare, serta Petak 20 H seluas 18 hektare.
Tim gabungan yang berjumlah 153 personel kemudian melakukan pemadaman melalui jalur Batursari.
Dalam laporan penanganan, api di titik-titik tersebut disebut berhasil dipadamkan.
Namun, setelah upaya dilakukan, titik api baru kembali terpantau di Petak 16 A seluas 18,10 hektare, Petak 17 B seluas 31,60 hektare, Petak 17 F seluas 6,80 hektare, Petak 20 B seluas 56,79 hektare, serta Petak 20 G seluas 18,70 hektare.
Kemunculan titik api di sejumlah petak, menunjukkan penanganan harus dilakukan secara bertahap.
Hal itu dengan memperhatikan kondisi vegetasi dan potensi perambatan api.
Penanganan berlanjut pada Sabtu (24/10/2026) melalui basecamp Bimawari menuju Camp Area, Pos 4, dan Pos 5.
Dilaporkan, pada pukul 13.45 WIB tim gabungan tidak lagi menemukan titik api maupun asap.
Kondisi itu menjadi dasar bagi personel untuk mulai berangsur turun. Lantaran kawasan dinilai kondusif.
Kendati begitu, perkembangan ini tetap perlu dibedakan dari kepastian bahwa seluruh kawasan telah sepenuhnya aman.
Pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api.
Selain kondisi kebakaran, Agus Setywan menyebut, dampak terhadap pasokan air bersih warga turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Temanggung.
Agus mengungkapkan, saat mengecek jalur hingga Pos 1, dirinya mendapati saluran air minum menuju Desa Wonosari dalam kondisi mati.
“Saluran air minum yang menuju ke arah Desa Wonosari ternyata mati,” ungkapnya.
Meski demikian, penyebab terhentinya aliran air belum diketahui secara pasti.
Petugas juga belum mengidentifikasi kondisi sumber mata air yang menjadi asal pasokan air bagi warga.
Agus mengatakan, terdapat kekhawatiran sumber mata air turut terdampak kebakaran.
Namun, hal tersebut belum dapat dipastikan sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemerintah Kabupaten Temanggung masih menunggu hasil identifikasi untuk mengetahui kondisi sumber air.
Sekaligus memastikan penyebab aliran air menuju Desa Wonosari terhenti.
“Baru terkonfirmasi memang saluran air minum. Cuma belum mengecek karena tadi pagi terpantau di titik saluran air masih ada api. Setelah kondisi akan, akan kami pastikan kondisinya untuk sumber air minum warga,” tandasnya.
Sebelumnya, upaya pemadaman di wilayah Batursari memang difokuskan untuk mengamankan mata air warga.
Karena itu, kondisi sumber air menjadi salah satu hal penting yang perlu diperiksa setelah penanganan kebakaran.
Dengan tidak ditemukannya titik api dan asap pada Sabtu siang, penanganan kebakaran Gunung Sumbing memasuki tahap lanjutan berupa pemantauan kondisi kawasan.
Sementara untuk luas area terdampak dan kondisi sumber air yang memasok kebutuhan warga, masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo