Modal Rp 300 Ribu, Ecoprint Temanggung Kini Bidik Pasar Vietnam

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 20:03 WIB

 

Batik ecoprint Ramban Ayu yang diproduksi Trining Tyas Majid telah menembus jejaring pasar internasional. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang).
Batik ecoprint Ramban Ayu yang diproduksi Trining Tyas Majid telah menembus jejaring pasar internasional. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang).

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung  – Tak banyak yang menyangka, modal Rp300 ribu bisa menjadi awal perjalanan Batik Ecoprint Ramban Ayu.

Batik tersebut menembus jejaring pasar internasional. Berawal dari keresahan terhadap limbah pewarna sintetis, usaha batik ecoprint itu dirintis Trining Tyas Majid.

Ia memulai usahanya sejak 2019. Kini, Tyas-sapaan akrabnya, bersiap membawa produk ecoprint asal Temanggung ke Vietnam.

Ramban Ayu dijadwalkan mengikuti Global Craft Festival di Hanoi, Vietnam, pada 10–19 November 2026. Keikutsertaannya menjadi langkah untuk memperluas jejaring. Itu sekaligus mengenalkan produk berbasis bahan alam dari Temanggung ke pasar kerajinan internasional.

Ketika pertama memulai usaha, Tyas hanya bermodal sekitar Rp300 ribu. Sebelumnya, dia lebih dulu belajar membuat batik dan shibori dengan pewarna sintetis. Namun, persoalan limbah membuatnya berpikir untuk mencari alternatif pewarnaan yang lebih ramah lingkungan.

"Saya merasa limbahnya kurang bagus dan tidak ramah lingkungan. Kemudian saya mencari cara membuat batik yang lebih ramah lingkungan. Akhirnya saya bertemu dengan ecoprint dan mulai belajar," kata Tyas di Temanggung, Minggu (4/10/2026).

Dia kemudian mengikuti berbagai pelatihan ecoprint secara langsung di Jogjakarta dan Banjarnegara. Setelah merasa cukup memahami tekniknya, Tyas mulai mencoba memproduksi dan menjual hasil karyanya.

Promosi awal dilakukan melalui Facebook. Respons positif dari masyarakat membuat usaha batik ecoprint terus berkembang. Bahkan, Tyas membangun merek sendiri. Itu bernama Batik Ecoprint Ramban Ayu.

Kini, produksi tidak lagi dikerjakan seorang diri. Dalam kondisi normal, dua orang membantu proses produksi. Ketika permintaan meningkat, jumlah tenaga dapat bertambah menjadi empat orang. Dua tenaga lainnya menangani media sosial dan pemasaran.

Produk utama Ramban Ayu berupa kain ecoprint sekitar dua meter. Harganya mulai Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung motif, bahan dan proses pembuatannya. "Memang produk utamanya kain ecoprint. Kalau soal harga tergantung motif dan bahan dan proses pembuatannya," ujar Tyas.

Pemasaran pun tidak lagi mengandalkan penjualan secara langsung. Ramban Ayu memanfaatkan Shopee, situs web, Instagram, YouTube, TikTok dan WhatsApp. Produk juga dibawa ke berbagai pameran, termasuk Inacraft.

Yang menarik, pasar Ramban Ayu berkembang bersamaan dengan aktivitas edukasinya. Saat ditemui, Tyas mengaku, tidak hanya menjual produk. Melainkan serta mengajarkan teknik ecoprint kepada masyarakat.

Pelatihan digelar secara offline maupun online. Peserta tatap muka bisa mengikuti kelas privat atau reguler di rumah produksi.

"Karena ecoprint ini belum banyak yang tahu, kami ingin bagaimana caranya masyarakat mengenal ecoprint. Makanya kami membuat pelatihan, baik online maupun offline," ujarnya.

Jangkauannya bahkan sudah melampaui Indonesia. Peserta pelatihan daring Ramban Ayu tercatat berasal dari Malaysia, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Pakistan hingga India. Sementara peserta pelatihan langsung datang dari berbagai daerah, seperti Papua, Sulawesi, Aceh, Palembang dan Kutai.

Menurut Tyas, ecoprint memiliki keunggulan. Karena bahan bakunya dapat ditemukan di lingkungan sekitar. Daun, rumput dan tanaman paku-pakuan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan motif sekaligus warna alami.

Namun, tidak semua bahan mudah diperoleh. Untuk kebutuhan daun eucalyptus dan jati dalam jumlah besar, misalnya, Ramban Ayu mendatangkannya dari Kulonprogo. Sekali kebutuhan produksi, bahan daun bisa mencapai lima hingga enam kilogram.

Dalam prosesnya, daun harus dipilih berdasarkan kandungan tanin atau pigmen warna. Kain yang digunakan juga harus berbahan serat alam.

Kain terlebih dahulu menjalani proses scouring untuk membersihkan bahan kimia bawaan pabrik. Selanjutnya dilakukan mordanting agar serat kain dapat bereaksi dengan pigmen dari daun.

 Motif dicetak melalui teknik ketok maupun kukus. Setelah itu kain dibiarkan selama tiga hingga tujuh hari untuk proses oksidasi sebelum masuk tahap fiksasi.

 Setelah difiksasi, kain dicuci menggunakan sampo, deterjen lembut maupun bahan alami seperti lerak. Dari proses tersebut, Ramban Ayu kini mampu memproduksi sekitar 200 lembar kain per bulan.

Kendati demikian, Tyas masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan bahan baku. Musim kemarau menjadi salah satu kendala karena sejumlah tanaman yang biasa digunakan sulit diperoleh.

Aktivitas warga juga dapat memengaruhi pasokan. Saat kerja bakti membersihkan lingkungan, tanaman liar dan rumput yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan ecoprint ikut dibersihkan.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah Ramban Ayu. Dari usaha bermodal awal Rp300 ribu, ecoprint Temanggung kini telah memiliki konsumen dan peserta pelatihan dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Selanjutnya, Tyas membawa karya tersebut ke panggung yang lebih luas. Vietnam menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan ecoprint berbasis bahan alam dari Temanggung ke jejaring kerajinan internasional.

"Insyaallah bulan depan saya akan mengikuti Global Craft Festival di Hanoi, Vietnam.  Semoga ini bisa membanggakan Kabupaten Temanggung," harapnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
pameran di vietnam global craft festival bahan alami batik ecoprint