RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Musim kemarau berkepanjangan yang dipicu fenomena El Nino Godzilla membuat petani cabai di Kabupaten Temanggung, terpukul.
Tanaman cabai yang biasanya tumbuh hijau dengan buah lebat, kini mengering hingga 30 persen.
Bahkan, mayoritas tanaman mati akibat kekurangan air. Kondisi itu terlihat di areal pertanian cabai di lereng Gunung Sumbing, Desa Tlogomulyo, Kecamatan Tlogomulyo.
Sekitar 50 persen tanaman dilaporkan mati akibat minimnya pasokan air selama musim kemarau.
Hal itu diakui petani cabai asal Desa Tlogomulyo, Wahyu Ardianto, 30. Ia mengatakan penurunan produksi mulai dirasakan dalam dua bulan terakhir.
Tanaman yang masih bertahan hidup pun tidak mampu berproduksi secara maksimal.
Baca Juga: Petani Temanggung Tanam 35 Hektare Cabai Rawit, Disiapkan untuk Pasokan Natal dan Tahun Baru
"Kalau dampak kekeringan kebanyakan mati karena kekurangan air. Hasil panennya menurun. Tanaman yang kekurangan air buahnya kurang segar, agak kering, sehingga bobotnya berkurang," kata Wahyu saat ditemui di ladangnya pada Jumat (4/9/2026).
Dalam kondisi normal, lanjut Wahyu, satu lahan seluas seperempat hektare dapat menghasilkan hingga satu kuintal cabai. Namun, akibat kekeringan, hasil panen kini hanya berkisar 20 kilogram.
"Kalau buahnya bagus mungkin 20 sampai 30-an kilogram. Kalau kondisinya normal bisa sampai satu kuintal," ujarnya.
Produksi tanaman yang masih hidup juga diperkirakan hanya 30 persen dibandingkan kondisi normal.
Kondisi ini membuat pendapatan petani ikut tergerus. Meski harga cabai di tingkat petani saat ini mencapai sekitar Rp 40.000 per kilogram.
Petani telah berupaya menyelamatkan tanaman dengan mendatangkan air untuk penyiraman.
Namun, langkah itu justru menambah biaya produksi. "Sudah disiram, Tapi kalau dihitung-hitung tetap rugi karena membutuhkan biaya bensin dan biaya lainnya," ungkapnya.
Wahyu mengatakan Desa Tlogomulyo menjadi salah satu wilayah yang kesulitan mendapatkan pasokan air saat musim kemarau. Petani di kawasan ini lebih mengandalkan musim hujan untuk bercocok tanam.
Petani berharap, pemerintah membantu menyediakan sumber air yang dapat digunakan untuk mengairi lahan saat musim kemarau. Salah satu solusi yang dinilai memungkinkan adalah pembangunan sumur bor.
"Kalau irigasi mungkin agak susah. Kalau ada sumur bor, walaupun musim kemarau bisa digunakan petani untuk irigasi. Setidaknya bisa meringankan beban petani," ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Joko Budi Nuryanto mengatakan, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Ramalannya musim tahun ini lebih kering dibandingkan dengan tahun-tahun yang kemarin. Secara durasi, kemaraunya akan lebih panjang dari biasanya. Misal 6 atau 8 bulan musim kemarau ini bisa 10 bulan atau lebih," kata Joko.
Pemerintah daerah telah menyiagakan brigade pompa untuk membantu petani yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
Sebanyak 10 unit pompa disiapkan di masing-masing Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk dapat dipinjamkan kepada petani.
DKPPP Temanggung juga melakukan pengecekan terhadap jaringan irigasi yang telah dibangun. Yakni untuk memastikan kondisi dan debit air tetap dapat dimanfaatkan.
Joko mengakui, kondisi kemarau panjang berpotensi menyebabkan penurunan produksi pertanian.
Namun, dia memastikan ketersediaan cabai untuk kebutuhan di Kabupaten Temanggung masih dalam kondisi aman.
"Secara produksi memang akan ada sedikit penurunan, itu pasti. Tetapi secara pasar masih dalam kondisi aman. Luasan kami masih mencukupi untuk kebutuhan di Kabupaten Temanggung," ujarnya.
Adapun luas lahan pertanian cabai di Kabupaten Temanggung tahun ini mencapai sekitar 12.000 hektare.
Meliputi lahan cabai keriting, cabai rawit atau sret, dan cabai besar. Sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan cukup parah antara lain Kecamatan Tlogomulyo, Bulu, Kandangan, dan Kaloran. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo