Turuti Wasiat Sang Ayah Teruskan Warisan Keluarga, Jaran Kepang Temanggungan Menembus Negeri Jiran

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 11:45 WIB

 

Supriwanto, perajin jaran kepang di Sanggar Kandang Jaran, Ngadirejo, menunjukkan hasil karyanya. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Supriwanto, perajin jaran kepang di Sanggar Kandang Jaran, Ngadirejo, menunjukkan hasil karyanya. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Di sebuah sanggar di Dusun Kembang, Desa Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, bilah-bilah bambu apus tidak sekadar berubah menjadi bentuk kuda. 

Di tangan Supriwanto, bambu tersebut berubah menjadi jaran kepang yang menjadi bagian dari pertunjukan seni tradisi.

Itu sekaligus membawa nama Temanggung hingga ke luar negeri.

Pria 40 tahun itu merupakan perajin jaran kepang di Sanggar Kandang Jaran. Hampir setiap hari waktunya bergelut dengan bambu.

Mulai dari memilih bahan, membelah, menganyam, membentuk hingga memberi warna.

Yang menarik, jalan Supriwanto menjadi perajin jaran kepang bukan berawal dari sebuah cita-cita. Justru sebaliknya.

Baca Juga: Tradisi Mepe Jaran Kepang di Temanggung, Rangkul Ribuan Pecinta Seni

Supriwanto sempat tidak memiliki keinginan meneruskan usaha keluarga tersebut.

Namun, pesan sang ayah sebelum meninggal mengubah jalan hidupnya. Supriwanto diminta menjaga warisan budaya keluarga agar tidak berhenti pada dirinya.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya saya dulu enggak ada kerentek (keinginan) untuk meneruskan. Saya murni menjalankan wasiat dari orang tua untuk melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak terputus,” ujarnya saat ditemui di sanggarnya, Kamis (3/9/2026).

Wasiat tersebut akhirnya dijalankan. Supriwanto menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha pembuatan jaran kepang keluarganya.

Usaha itu dirintis sang kakek sejak 1931. Puluhan tahun kemudian, pada 1971, usaha itu diteruskan oleh sang ayah.

Supriwanto mengaku, mulai menekuni pembuatan jaran kepang secara lebih serius sejak 2010, terutama setelah menikah.

Bersama istrinya, Ayu Ismilatun, ia perlahan mengembangkan usaha tersebut.

Bukan hanya mengandalkan pembeli yang datang ke sanggar. Supriwanto mulai memperkenalkan karyanya melalui media sosial.

Dari situlah jangkauan pasar perlahan melebar. Yang semula hanya dikenal di sekitar Temanggung, kini pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, jaran kepang buatannya telah sampai ke Malaysia. 

"Wisatawan asal Prancis dan Australia juga pernah membeli karya saya. Mereka memganggap ini bukan hanya pernak-pernik maupun suvenir," katanya.

Supriwanto menjelaskan, Sanggar Kandang Jaran saat ini mampu memproduksi sekitar 13 hingga 17 jaran kepang berukuran besar setiap bulan. Produk tersebut biasanya digunakan untuk kebutuhan pementasan tari.

Sementara untuk jaran kepang mainan, produksinya jauh lebih banyak. Sekitar 100 buah dapat diproduksi setiap pekan.

Kemudian dipasarkan melalui grosir di wilayah Wonosobo dan Magelang. Harganya pun beragam.

Jaran kepang mainan anak-anak dibanderol mulai Rp35 ribu per buah. Sementara jaran kepang untuk kebutuhan tari profesional berada di kisaran Rp600 ribu hingga Rp6 juta, tergantung ukuran, bahan, tingkat kerumitan dan permintaan konsumen.

"Kalau jaran kepang profesional tergantung kerumitan juga. Untuk pesanan khusus atau custom, harganya bisa lebih tinggi. Terutama apabila menggunakan bulu kuda asli," jelas Supriwanto.

Bagi Supriwanto, membuat jaran kepang bukan sekadar perkara membentuk anyaman bambu menyerupai kuda. Ada identitas yang harus dipertahankan.

Ia menyebut, jaran kepang Temanggungan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan produk dari daerah lain. Salah satunya terletak pada bahan baku.

Bambu apus menjadi pilihan karena memiliki karakter kuat sekaligus lentur. Karakter tersebut membuat jaran kepang lebih kokoh, tetapi tetap mudah dibentuk mengikuti desain.

"Bambu apus ini yang bagus. Karena kokoh dan lentur," ujarnya.

Dari segi bentuk, lanjut Supriwanto, jaran kepang Temanggungan cenderung berukuran lebih kecil. Namun, pilihan warnanya justru berani dan beragam.

Ada pula ciri khas pada bagian kaki depan kuda yang dibuat menekuk. Bentuk tersebut bukan tanpa makna. 

Menurut Supriwanto, kaki kuda yang menekuk merupakan simbol olah kanuragan atau gambaran seorang prajurit yang tengah bersiap menghadapi peperangan.

“Di Temanggung itu seni jaran kepang lebih mengedepankan unsur kreasi dan pertunjukan seni. Bukan sekadar atraksi atau kesurupan. Pementasannya dikemas menarik layaknya sebuah sendratari atau konser,” jelasnya.

Karakter itulah yang berusaha dipertahankan Supriwanto di tengah perkembangan zaman. Sebab, jaran kepang kini tidak hanya menjadi properti dalam pertunjukan. 

Di tangan perajin, benda itu memiliki nilai ekonomi dan menjadi cendera mata yang bisa dibawa pulang wisatawan.

Namun, komersialisasi tidak boleh membuat akar budayanya hilang Itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Supriwanto.

Supriwanto ingin jaran kepang tetap hidup sebagai seni tradisi, bukan sekadar barang dagangan. Karena itu, ia berharap generasi muda tidak berhenti mengenal jaran kepang melalui potongan video di media sosial. 

Terlebih, memahami kesenian tradisional membutuhkan proses belajar langsung kepada pelaku seni dan perajin.

 “Harapan saya, generasi yang akan datang mau belajar dan mempertahankan warisan budaya leluhur ini. Jangan sampai mereka hanya paham secara instan lewat media sosial saja, tapi belajarlah langsung ke sumbernya agar tidak salah paham tentang keindahan seni tradisi kita,” katanya.

Kualitas jaran kepang buatan Supriwanto juga mendapat apresiasi dari seniman sekaligus pemerhati jaran kepang asal Desa Muntung, Dian Rasya.

Menurut Dian, kekuatan karya Supriwanto terletak pada pemilihan bahan serta ketelitian dalam proses pengerjaan.

Bambu yang digunakan merupakan bahan pilihan. Setelah itu, proses pembentukan dilakukan secara teliti hingga menghasilkan jaran kepang yang rapi dan kokoh.

“Jaran kepang karya Supriwanto mempunyai nilai seni yang tinggi dan lebih kuat karena dibuat dari bahan bambu pilihan. Pengerjaannya juga rapi, kuat, dan pewarnaannya halus,” ujar Dian saat berkunjung ke sanggar.

Tak heran jika sejumlah kelompok seni memilih memesan properti pertunjukan dari Sanggar Kandang Jaran.

Bagi mereka, kualitas properti menjadi bagian penting dalam mendukung penampilan di atas panggung. 

Bentuk yang rapi, kuat dan memiliki pewarnaan yang baik membuat jaran kepang tidak hanya enak dipandang. Melainkan mampu digunakan berulang kali dalam pertunjukan.

 "Bentuknya memang rapi. Komposisi jaran kepangnya juga kokoh. Jadi bisa bertahan lama," tambah Dian.

Kini, usaha yang awalnya dijalankan sebagai bentuk memenuhi wasiat orang tua, telah berkembang jauh.

Dari sebuah sanggar di pelosok Temanggung, karya Supriwanto telah menjangkau berbagai daerah, bahkan menyeberangi batas negara.

Namun bagi Supriwanto, banyaknya pesanan bukan sekadar ukuran keberhasilan bisnis.

Ada pesan yang jauh lebih besar di balik setiap jaran kepang yang ia selesaikan.

Setiap bilah bambu yang dianyam adalah bagian dari upayanya menjaga warisan keluarga. Setiap warna yang dibubuhkan menjadi cara untuk mempertahankan identitas seni Temanggung.

Dan setiap jaran kepang yang dibawa keluar daerah, bahkan ke luar negeri, menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih mampu bertahan di tengah derasnya perubahan zaman. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
jaran kepang temanggungan negeri jiran desa dlimoyo