Panen Tembakau Lamuk Anjlok 70 Persen, Srintil Berpotensi Muncul Lebih Banyak

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:46 WIB
Tembakau srintil di Lamuk Legok, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung yang harganya selangit. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Tembakau srintil di Lamuk Legok, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung yang harganya selangit. (Istimewa).

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Petani tembakau di kawasan Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, menghadapi musim panen yang serba kontras. 

Produksi tembakau tahun ini diperkirakan anjlok hingga 60–70 persen akibat kemarau panjang.

Namun di sisi lain, kualitas daun justru dinilai lebih baik. Bahkan, harga tembakau premium pada awal September, menembus Rp400 ribu per kilogram.

Kepala Dusun Lamuk Legok, Sutopo mengatakan, kemarau datang lebih awal.

Sehingga, pertumbuhan tanaman tembakau tidak maksimal. Setelah sekitar 50 hari sejak tanam, tanaman hampir tidak mendapatkan hujan.

"Kalau dibanding dengan tahun kemarin, penurunannya (produksi) sekitar 60 persen sampai 70 persen," kata Sutopo saat ditemui di Pendopo Jenar Setda Temanggung, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: BRIN Turun ke Temanggung, Kaji Ancaman Pembatasan Tar-Nikotin terhadap Rokok Kretek

Meski ukuran tanaman lebih kecil dan hasil panen menurun, kondisi cuaca justru membuat kualitas daun tembakau yang dihasilkan dinilai lebih bagus.

 Bahkan, tembakau dengan kualitas tinggi kini mulai diburu pembeli.

Sutopo menyebut, salah satu tembakau grade E plus milik petani di wilayahnya, telah dihargai Rp400 ribu per kilogram.

 "Dari bahannya saja sudah bagus, kemudian setelah dirajang jadinya juga bagus," ujarnya yang juga petani tembakau.

Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga grade E yang sebelumnya disebut Bupati Temanggung Agus Setyawan telah mencapai Rp350 ribu per kilogram.

Sementara tembakau grade C dan D berada di kisaran Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.

Namun, Sutopo menegaskan, harga Rp400 ribu tersebut bukan patokan umum untuk seluruh tembakau grade E.

Harga sangat bergantung pada kualitas bahan baku, aroma, cita rasa, proses pemeraman, serta karakter lahan.

Sebab, tembakau yang secara fisik terlihat sebagai grade E belum tentu memiliki kualitas aroma yang sama.

Ada daun yang secara tampilan masuk grade E, tetapi bahan bakunya sudah memiliki karakter grade F. Sehingga, nilai jualnya bisa mengikuti kualitas tersebut.

"Jadi grade E, tetapi karena bahan F sehingga cita rasa dan aromanya itu aroma F. Jadi grade E, tapi harganya F," jelasnya.

Karakter tanah juga berpengaruh terhadap kualitas.

Tembakau yang ditanam di lahan berkerikil, berpasir, maupun tanah liat dapat menghasilkan aroma dan cita rasa berbeda. Meski secara fisik memiliki grade yang sama.

Sutopo mengatakan, di tengah produksi yang turun drastis, aktivitas pembelian tembakau di tingkat petani justru mulai ramai.

Terlebih,  terbatasnya jumlah tembakau berkualitas membuat pembeli mulai mencari hasil panen terbaik.

"Secara kuantitas tembakau itu sedikit dan kualitasnya bagus. Sehingga ini banyak yang membutuhkan dan banyak yang mengejar," katanya.

Saat ini sejumlah tembakau di Lamuk bahkan sudah memasuki grade F.

Namun harga akhirnya belum dapat dipastikan karena petani masih menunggu proses penjemuran.

Petani biasanya tidak langsung menentukan grade setelah tembakau dirajang.

Daun terlebih dahulu dikeringkan selama satu hingga dua hari.

Itu untuk memastikan kualitas dan karakter akhirnya.

"Petani benar-benar memastikan bahwa grade itu adalah benar-benar grade yang jejek," tuturnya.

Potensi munculnya tembakau srintil juga masih terbuka.

Terlebih, ada lebih 100 hektare lahan yang digarap warga Legoksari sebagai lokasi menanam tembakau.

Saat ini petani sedang memasuki petikan ketiga dan keempat.

Jika kondisi cuaca mendukung hingga akhir panen, jumlah srintil diperkirakan masih dapat bertambah.

Sutopo mengatakan, srintil memiliki nilai khusus bagi wilayah Lamuk.

Tembakau itu telah mendapat perlindungan sebagai kekayaan intelektual melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM.

"Meski produksi tembakau anjlok hingga 70 persen, petani kini berharap kualitas tinggi mampu menutup sebagian penurunan hasil panen. Apalagi, harga tembakau premium tahun ini menunjukkan tren yang cukup menjanjikan," tandas Sutopo. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
lamuk legok srintil panen harga tembakau