Taman Pengayoman Temanggung Direvitalisasi, PKL Berharap Tak Dibebani Biaya Masuk

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 16:06 WIB
Kondisi PKL yang berjualan di tepi Jalan Letjen Soetoyo karena pusat kuliner Taman Pengayoman Temanggung serang direvitalisasi, Senin (24/8/2026). (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Kondisi PKL yang berjualan di tepi Jalan Letjen Soetoyo karena pusat kuliner Taman Pengayoman Temanggung sedang direvitalisasi, Senin (24/8/2026). (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung– Revitalisasi Taman Kuliner Pengayoman Temanggung masih berlangsung. Kegiatan pembangunan disambut positif pedagang kaki lima (PKL) di kawasan tersebut.

Namun, di balik hadirnya kawasan kuliner yang lebih nyaman dan ramai, pedagang juga berharap tidak dibebani biaya masuk ketika kembali menempati lokasi tersebut.

Hal itu disampaikan Badrudin, 64, salah satu PKL yang telah berjualan di Taman Kuliner Pengayoman sejak 2018. 

Selama proses revitalisasi berlangsung, Badrudin bersama istrinya, berjualan sementara di tepian Jalan Letjen Soetoyo atau di samping Taman Pengayoman.

Badrudin mengaku, tidak keberatan dengan adanya retribusi selama nominalnya masih terjangkau.

Baca Juga: Segmen D Pendopo Pengayoman Dibangun, Pemkab Temanggung Prioritaskan Penataan PKL

Saat berjualan di Taman Kuliner Pengayoman, ia dikenai retribusi Rp5 ribu per hari. Sedangkan di lokasi sementara, retribusi yang dibayarkan Rp3 ribu per hari.

"Gak apa-apa ada retribusi. Asal nanti pas Taman Kuliner Pengayoman selesai dibangun, tidak digetok harga saat pertama masuk (berjualan)," ujar Badrudin saat diwawancara, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, harus ada pembahasan lanjutan mengenai skema penataan PKL di kawasan kuliner Taman Pengayoman.

Ia meminta, tidak ada biaya masuk bagi pedagang. Sebab, sebagian besar PKL menggantungkan penghasilan sehari-hari dari aktivitas berjualan.

Badrudin sendiri telah berjualan di lokasi itu sejak era Bupati Bambang Sukarno. Sudah bertahun-tahun, ia bersama istrinya menjalankan usaha bakso dan mi ayam di kawasan Taman Kuliner Pengayoman.

Saat ini, terdapat sekitar 42 anggota Paguyuban Kuliner Taman Pengayoman yang memiliki izin resmi dan identitas sebagai pedagang.

Selama revitalisasi berlangsung, mereka sementara menempati lokasi di tepian Jalan Letjen Soetoyo dan Jalan Brigjen Katamso.

Badrudin berharap setelah pembangunan selesai, para pedagang lama tetap mendapatkan tempat untuk berjualan.

Ia juga berharap, penataan baru mampu membuat kawasan tersebut semakin ramai. Sehingga, omzet pedagang ikut meningkat.

Pasalnya, selama menempati lokasi sementara, omzetnya mengalami penurunan. Jika sebelumnya bisa mengantongi Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sehari. Kini, terkadang dagangannya tidak laku.

"Pas di taman kuliner sehari bisa dapat Rp300-400 ribu. Kalau di tepi jalan ini, kadang gak ada yang beli," ungkapnya.

Kakek tujuh cucu ini menilai, lokasi sementara yang sempit menjadi salah satu penyebab pembeli tidak nyaman.

Satu lapak hanya bisa menampung maksimal  empat pelanggan. Selain itu, lapak juga terpapar langsung sinar matahari pada siang hari.

"Makanya, pembeli kadang duduk jauh di samping pagar pendopo yang ada pepohonan," katanya.

Ia juga menyebut, sebagian pedagang memilih tidak berjualan selama masa revitalisasi.

Lantaran kondisi lokasi sementara belum seramai kawasan taman kuliner sebelumnya.

"Ya karena mereka (PKL lain) bingung. Mau jualan nggak laku dan rugi modal, nggak jualan ya nggak dapat penghasilan," tuturnya.

Kendati begitu, Badrudin tetap optimistis terhadap revitalisasi Taman Kuliner Pengayoman.

Ia berharap, kawasan baru tersebut bisa memberikan ruang usaha yang lebih nyaman. Itu sekaligus meningkatkan jumlah pengunjung.

 "Harapan saya lancar, laris dan bisa berjualan untuk masa depan," ujarnya.

Harapan serupa disampaikan pedagang lainnya, Hendrawan. Ia menyambut baik dimulainya pembangunan dan penataan Taman Kuliner Pengayoman.

Menurutnya, revitalisasi menjadi kesempatan untuk menghadirkan kawasan kuliner yang lebih nyaman sekaligus menarik bagi masyarakat.

"Alhamdulillah, semoga lokasi ini nantinya bisa menjadi pusat kuliner yang mampu menarik lebih banyak pengunjung. Sehingga dapat menambah kesejahteraan ekonomi bagi para pedagang maupun masyarakat sekitar," ujar Hendrawan.

Terpisah, Bupati Temanggung Agus Setyawan mengatakan, revitalisasi Taman Kuliner Pengayoman merupakan bagian dari penataan kawasan alun-alun, Pendopo Pengayoman, serta Citywalk di Jalan MT Haryono.

Selain menjadi pusat kuliner, kawasan tersebut nantinya diarahkan sebagai ruang interaksi publik. Itu sekaligus panggung hiburan masyarakat.

"Kita mulai dulu di segmen D karena untuk memfasilitasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang eksis di sini sejak tahun 2017. Termasuk teman-teman yang biasa berjualan di sayap timur dan barat kawasan pendopo," kata Agus.

Pemerintah ingin, penataan kawasan Taman Pengayoman mampu meningkatkan kunjungan masyarakat.

Yakni sekaligus menggerakkan perekonomian di wilayah perkotaan. 

"Harapannya nanti setelah lokalisasi, di dua ruas jalan itu bebas PKL. Kita fasilitasi masyarakat yang ingin jajan (kuliner) agar nyaman bagi masyarakat juga para PKL. Sehingga, menjadi daya tarik tersendiri khususnya di wilayah Kota Temanggung," tandasnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
taman pengayoman Bupati Temanggung Agus Setyawan pendopo pengayoman revitalisasi pedagang kaki lima (PKL)