Kemeriahan Tradisi Nyadran Sewu Kupat di Ngemplak Kandangan Temanggung, Begini Asal-Usulnya

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:24 WIB


Masyarakat Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, melestarikan tradisi nyadran sewu kupat, Jumat (21/8/2026). (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Masyarakat Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, melestarikan tradisi nyadran sewu kupat, Jumat (21/8/2026). (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Di Temanggung ada sebuah tradisi unik. Namanya, nyadran sewu kupat alias 1.000 kupat.

Dalam tradisi ini, ketupat yang dibawa warga Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Temanggung, bukan sekadar hidangan dalam tradisi tahunan.

Di baliknya tersimpan kisah perjuangan leluhur mencari sumber air yang berlangsung hingga 1.000 hari.

Kisah tersebut menjadi asal-usul tradisi Nyadran Sewu Kupat yang digelar warga setempat setiap tahun.

Nyadran sebagai wujud syukur masyarakat atas keberadaan Mata Air Silenging, yang hingga kini masih mengalir dan menjadi sumber kehidupan warga.

Nyadran Sewu Kupat digelar Jumat (22/8/2026) dengan suasana sakral. Warga membawa tiga gunungan berisi sayur-mayur.

Sementara para pemuda membawa ketupat dan tenong berisi ingkung. Nantinya dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Puncak acara, warga berebut ayam dan gunungan yang dibawa.

Baca Juga: Nyadran Ageng Bhumi Phala, Ungkap Syukur dan Doa para Petani Temanggung

Kepala Desa Ngemplak Sri Astuwidi Subagyo menceritakan, nama Sewu Kupat berasal dari cerita leluhur setempat, Punden Kiai Lenging.

Kala itu, kawasan Ngemplak masih berupa perbukitan yang jauh dari persawahan dan sulit mendapatkan air.

Kiai Lenging kemudian berupaya membuat aliran irigasi. Supaya air bisa mengalir ke wilayah pertanian. Setiap hari ia berangkat membawa bekal berupa satu ketupat.

Namun, setelah 999 hari, pekerjaan tersebut belum juga selesai. Pada hari ke-1.000, istrinya kemudian ikut membantu.

Bekal ketupat untuk perjalanan terakhir pun dibawa dengan harapan aliran air akhirnya berhasil dibuat.

"Setiap berangkat itu dikasih sangu kupat satu. Sampai menjalankan tugas 999 hari belum selesai. Akhirnya istrinya bilang kalau sudah 1.000 hari belum selesai, mari saya bantu," kata Astuwidi.

Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, upaya pada hari ke-1.000 akhirnya membuahkan hasil. Aliran air terbentuk dari kawasan tersebut hingga menuju perbatasan wilayah Kaloran.

Dari situlah tradisi Sewu Kupat terus dilestarikan. Ketupat bukan hanya menjadi simbol bekal yang dibawa leluhur ketika berjuang membuat saluran air.

Melainkan menjadi pengingat masyarakat atas perjuangan orang-orang terdahulu. Yakni dalam menyediakan sumber kehidupan bagi warga.

Hingga kini, Mata Air Silenging masih menjadi sumber air penting bagi masyarakat. Airnya dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah.

Seperti Dusun Gendongan, Ngemplak, Kludran dan Ndakaran. Aliran tersebut juga dimanfaatkan sebagian wilayah Desa Kemiri, Kecamatan Kaloran.

Sementara untuk kebutuhan air minum, terdapat sumber di bagian atas kawasan tersebut. Dahulu cakupan pemanfaatannya cukup luas hingga wilayah Tegowanuh dan Kandangan.

Namun, seiring berkembangnya program penyediaan air bersih seperti Pamsimas, pemanfaatannya kini lebih terbatas.

Astuwidi mengatakan, debit Mata Air Silengeng relatif stabil sepanjang tahun. Bahkan, masyarakat dari sejumlah wilayah masih mengambil air dari sumber.

"Airnya sepanjang tahun tetap seperti ini. Ini termasuk sumber yang masih ada debitnya," ujarnya.

Kepala Dinbudpar Temanggung, Supriyanto, mengatakan, tradisi masyarakat Dusun Gendongan ini terus dijaga sebagai warisan budaya.

"Ini tradisi masyarakat dalam rangka memelihara tradisi budaya. Di situ juga sebagai wujud syukur masyarakat karena masih mendapat anugerah berupa kecukupan air yang memadai," katanya.

Nilai lain yang melekat dalam tradisi tersebut adalah kepedulian terhadap lingkungan. Maka, Pemkab Temanggung tahun ini mengusulkan Nyadran Sewu Kupat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Usulan itu menjadi bagian dari program pemerintah daerah untuk menginventarisasi. Sekaligus mendokumentasikan berbagai tradisi yang berkembang di Temanggung.

"Catatan kita kan minim. Ini salah satu upaya supaya tradisi itu diakui di masyarakat, kemudian juga tercatat di pemerintah," jelasnya.

Supriyanto mengatakan, pencatatan sebagai WBTB bukan berarti pemerintah mengambil alih tradisi dari masyarakat.

Justru setelah tercatat, masyarakat memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup.

Tradisi Sewu Kupat juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya.

Terlebih, Pemkab Temanggung tengah mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.

"Pariwisata Temanggung yang bisa dijual salah satunya budaya. Memang banyak tantangan, tapi kami optimistis berbagai tantangan itu bisa dilalui," tandas Supriyanto. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
nyadran sewu kupat warisan takbenda (WBTb) supriyanto Kandangan