RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Pemerintah Kabupaten Temanggung menyiapkan pasokan cabai rawit untuk menghadapi kebutuhan masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Upaya itu melalui penanaman cabai rawit seluas 35 hektare secara bertahap mulai Juli hingga Agustus.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung Sumarno mengatakan, pada tahap awal telah ditanam sekitar 20 hektare cabai rawit. Penanaman dilakukan di wilayah Kaloran dan Selopampang.
"Untuk cabai kami memang sengaja tanam di bulan Juli-Agustus. Ada kisaran 20 hektare. Nanti totalnya sekitar 35 hektare," kata Sumarno, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Tingkat Petani Temanggung Tembus Rp 65 Ribu per Kg
Program itu didanai melalui APBD Provinsi Jawa Tengah. Dilaksanakan dengan pendampingan kepada kelompok tani di Kabupaten Temanggung.
Menurut Sumarno, penanaman dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan cabai yang biasanya meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru.
Pada periode tersebut, produksi cabai di sejumlah daerah berpotensi mengalami penurunan sehingga perlu dilakukan pengaturan waktu tanam.
"Harapannya bisa panen November, Desember sampai Januari. Biasanya kebutuhan cabai cukup lumayan saat Natal dan Tahun Baru, sementara produksinya juga biasanya kurang," ujarnya.
Cabai yang ditanam merupakan jenis cabai rawit. Petani mendapatkan dukungan sarana produksi dari pemerintah provinsi.
Mulai dari benih, pupuk hingga mulsa plastik. Selain itu, petani juga mendapatkan pelatihan budidaya dan pendampingan.
Lokasi penanaman dipilih dengan mempertimbangkan ketersediaan air. Karena itu, lahan yang digunakan merupakan wilayah yang telah memiliki sumber pengairan. Sehingga kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi.
"Memang kita pilih daerah-daerah yang ada airnya. Menggunakan irigasi yang sudah ada," jelasnya.
Setelah memasuki masa panen, hasil produksi cabai tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Jawa Tengah. Petani dapat menjual hasil panennya melalui koordinator program maupun pedagang lokal.
"Harapannya sasarannya pasar-pasar lokal, pasar Temanggung, pasar Rejowinangun dan sebagainya. Yang jelas diarahkan untuk pasar Jawa Tengah," ungkap Sumarno.
Untuk harga, petani tetap mengikuti mekanisme harga pasar. Program tersebut tidak menetapkan harga khusus bagi hasil panen petani.
“Adanya program dari Pemprov ini, harapannya produksi cabai dapat lebih terjaga. Ini sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pasar Jawa Tengah pada periode Nataru,” tandas Sumarno. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo