Harmoni di Kampung Pancasila Temanggung : Satu Rumah Beragam Agama, Tetap Rukun dan Penuh Toleransi

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:24 WIB
Rosalia Indah, warga Desa Tempuran, Kaloran bersama mertuanya yang berbeda keyakinan. Dalam satu rumah, tetap rukun dan toleransi. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Rosalia Indah, warga Desa Tempuran, Kaloran bersama mertuanya yang berbeda keyakinan. Dalam satu rumah, tetap rukun dan toleransi. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Perbedaan keyakinan tidak selalu menjadi sekat dalam kehidupan bermasyarakat.

Di Desa Tempuran, Kecamatan Kaloran, Temanggung, keberagaman justru menjadi bagian dari keseharian yang sudah diwariskan sejak generasi terdahulu.

Salah satu gambaran toleransi itu, terlihat dalam sebuah rumah milik Rosalia Indah, 26. Di dalam rumah tersebut, dua agama hidup berdampingan.

Rosalia bersama suaminya memeluk agama Islam. Sementara kedua mertuanya merupakan pemeluk agama Buddha.

"Di rumah ada dua (orang) yang memeluk agama Buddha, yaitu mertua saya. Dua lainnya Islam, yaitu saya dan suami," kata Rosalia, Rabu (19/8/2026).

Perbedaan keyakinan tidak membuat hubungan keluarga menjadi renggang. Sebaliknya, Rosalia mengaku kehidupan bersama mertuanya berjalan rukun.

Begitu pula hubungan mereka dengan masyarakat sekitar. "Alhamdulillah saya dengan mertua rukun, begitupun sebaliknya dengan masyarakat setempat. Di sini memang kampung yang saling toleransi dengan menjaga kerukunan," ujarnya.

Menariknya, lingkungan gang tempat tinggal Rosalia justru mayoritas dihuni umat Buddha. Ia dan suaminya menjadi bagian dari sedikit warga muslim di gang tersebut.

Meski berbeda keyakinan, kehidupan berjalan sebagaimana biasa. Tidak ada sekat dalam aktivitas sosial maupun hubungan bertetangga.

"Di gang ini ada sekitar lima rumah. Mayoritas Buddha, dan saya bersama suami yang memeluk agama Islam.

Tapi kami tetap beraktivitas biasa tidak ada perbedaan. Tidak hanya saya, di gang lainnya juga ada yang satu rumah beda agama," tambah Rosalia.

Kepala Desa Tempuran, Priyanto mengatakan, keberagaman itu menjadi salah satu alasan desa ini dikenal sebagai Kampung Pancasila.

Masyarakat Desa Tempuran terdiri atas pemeluk Islam, Buddha, Kristen, Katolik, hingga penghayat kepercayaan.

Untuk menjaga komunikasi antarpemeluk agama, masyarakat memiliki Rumah Pancasila. Bangunan tersebut bukan sekadar simbol, tetapi menjadi ruang pertemuan warga untuk menjaga kebersamaan.

Menurut Priyanto, tradisi hidup rukun itu bukan sesuatu yang baru dibangun. Nilai toleransi telah tumbuh sejak zaman nenek moyang. 

"Sejak zaman nenek moyang. Di Desa Tempuran mulai dari dulu sudah banyak keyakinan. Salah satu wujud untuk mempersatukan berbagai agama ini dibangunlah Rumah Pancasila," jelasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, warga juga tidak membedakan agama ketika menjalankan kegiatan sosial dan tradisi desa. 

Pada momentum tersebut, tokoh agama dan tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul.

Mereka berdoa bersama sebagai bentuk syukur. Itu sekaligus mempererat hubungan antarsesama.

Komposisi penduduk Desa Tempuran sendiri sekitar 80 persen merupakan pemeluk Islam. Sedangkan 20 persen lainnya merupakan pemeluk Buddha, Katolik, Kristen, serta penghayat kepercayaan.

"Resepnya kita selalu mengadakan kerja bakti. Ada gotong royong mingguan, ada Minggu, ada Jumat Bersih," ungkap Priyanto.

Kesenian tradisional juga menjadi ruang perjumpaan warga. Desa Tempuran memiliki beragam kesenian, mulai wayang kulit, ketoprak, kuda lumping, topeng ireng hingga warokan.

Di panggung kesenian itu, warga membaur tanpa mempertanyakan latar belakang agama.

"Di situlah di kesenian ini kita membaur, tidak membedakan dari agama apa dan dari keyakinan apa," katanya.

Rumah Pancasila di Desa Tempuran juga menyimpan sejarah tersendiri. Menurut Priyanto, lokasi tersebut dulunya merupakan tempat berlindung para pejuang sebelum era kemerdekaan. Bahkan, nama Tempuran disebut berkaitan dengan sejarah tersebut.

"Kami mempunyai amanat besar dari leluhur kami. Kebetulan Rumah Pancasila ini dulunya adalah tempat berlindung para pejuang," ungkapnya.

Nilai-nilai tersebut pula yang kini coba diperkenalkan lebih luas. Desa Tempuran terpilih menjadi salah satu kandidat dalam penilaian Kampung Pancasila tingkat nasional yang digelar TNI Angkatan Darat.

Bahkan, kampung ini menjadi representasi dari 266 desa di Kabupaten Temanggung.

Dandim 0706 Temanggung Letkol Inf Richie Fadly mengatakan, nilai-nilai Pancasila dinilai telah hidup secara alami dalam keseharian warga Desa Tempuran.

Ia berharap, apabila Desa Tempuran nantinya berhasil meraih penghargaan, predikat tersebut bukan menjadi tujuan akhir.

Justru menjadi pemacu agar tradisi toleransi semakin kuat dan menyebar ke desa-desa lain di Temanggung.

"Harapannya bukan cuma saat ini. Setelah jadi juara, semakin meningkat nilai-nilai Pancasila itu," ujarnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
Letkol Inf Richie Fadly kampung pancasila temanggung satu rumah beragam agama desa tempuran kaloran