RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Pasokan air minum warga di Dusun Dawuhan, Desa Tretep, Kecamatan Tretep, Temanggung, sempat terganggu hingga sekitar 10 hari.
Penyebabnya, diketahui karena sebagian air Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Itu melalui sejumlah lubang pada jaringan pipa yang dilakukan oleh oknum.
Kondisi tersebut memicu aksi unjuk rasa warga di Kantor Desa Tretep, pada Minggu (19/7/2026) lalu. Aksi demo tersebut bahkan berlangsung hingga malam hari.
Mengenai hal tersebut, warga mempersoalkan berkurangnya pasokan air bersih. Padahal seharusnya air Pamsimas digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Termasuk kebutuhan minum.
Menanggapi hal ini, Bupati Temanggung Agus Setyawan buka suara. Bupati juga menemui ratusan warga pada malam kejadian.
Kepada wartawan, Agus mengaku, persoalan yang terjadi di Desa Tretep, merupakan konflik sosial terkait pemanfaatan air Pamsimas.
Menurutnya, program tersebut pada dasarnya diperuntukkan sebagai penyediaan air minum bagi masyarakat, bukan untuk irigasi.
"Sebetulnya masalah sosial, kaitannya masalah air Pamsimas. Memang ada beberapa titik yang dilubangi untuk membantu pengairan warga di ladang-ladang," katanya, Kamis (23/7/2026).
Agus menjelaskan, di sejumlah desa praktik pemanfaatan air Pamsimas untuk membantu pengairan lahan sebenarnya sudah berlangsung. Namun melalui kesepakatan bersama antara pengurus dengan warga.
Dalam hal tersebut, pemilik lahan yang dilewati jaringan pipa biasanya diberi kesempatan memanfaatkan air pada jam-jam tertentu.
Itu sebagai bentuk timbal balik karena telah mengizinkan pemasangan pipa di lahannya.
Namun, di Desa Tretep pelaksanaannya dinilai melewati batas. Sehingga mengganggu pasokan air minum warga.
"Biasanya warga yang lahannya dilewati pipa diberi keleluasaan pada jam-jam tertentu untuk mengisi embung-embung kecil (pertanian). Kemarin kelihatannya (di Tretep) agak kebablasan, sehingga dievaluasi masyarakat," jelasnya.
Akibatnya, warga Dusun Dawuhan tidak mendapatkan aliran air selama sekitar 10 hari.
Gangguan tersebut juga berasal dari dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Tretep. Lantaran dua SPPG memanfaatkan pasokan air dari jaringan Pamsimas tersebut.
"Beberapa hari terakhir air tidak mengalir sekitar 10 hari di Dusun Dawuhan. Ternyata air itu juga untuk meng-cover dua SPPG yang ada di Kecamatan Tretep. Alhamdulillah kemarin sudah terselesaikan dengan baik dan hari ini kondisinya sudah aman," katanya.
Pengelolaan Pamsimas, lanjut Agus, yang telah diserahkan kepada masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) harus tetap mengedepankan fungsi utamanya sebagai penyedia air minum.
"Karena itu kan Pamsimas, program dari Kementerian PU yang sudah diserahkan kepada masyarakat desa dan dikelola oleh BUMDes. Itu memang khusus untuk air minum," tegasnya.
Kendati demikian, bupati mengakui adanya kearifan lokal di sejumlah desa yang memperbolehkan pemanfaatan air untuk kebutuhan pertanian melalui kesepakatan warga.
Menurutnya, pola tersebut masih dapat diterapkan selama tidak mengganggu hak masyarakat memperoleh air bersih.
"Kalau didiskusikan dengan baik, insyaallah tidak akan terjadi seperti di Desa Tretep. Ini menjadi perhatian bagi desa-desa lain yang jaringan air minumnya melewati ladang agar melakukan negosiasi ulang dan pendekatan kembali dengan warga," terang Agus.
Pemkab Temanggung berharap, penyelesaian kasus di Desa Tretep menjadi pembelajaran bagi desa-desa lain.
Sehingga pengelolaan Pamsimas tetap mengutamakan kebutuhan air minum masyarakat.
“Ini sekaligus menjaga hubungan baik dengan pemilik lahan yang dilintasi jaringan pipa. Kejadian ini juga menjadi evaluasi kita bersama,” tandas Agus. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo