RADARMAGELANG.ID, Temanggung– Rencana pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Temanggung belum dapat direalisasikan.
Selain masih menyelesaikan proses administrasi dengan pemerintah pusat, pembangunan juga terkendala status lahan yang masuk dalam kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) atau Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD).
Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Temanggung, Tomo Adi Purnomo, mengatakan Pemerintah Kabupaten Temanggung sebenarnya telah mengusulkan pembangunan SR permanen pada 2025 di lahan wilayah Karanggedong, Kecamatan Ngadirejo.
"Kementerian Sosial kemudian menetapkan Temanggung masuk tahap II pembangunan Sekolah Rakyat permanen. Namun, lahan yang diajukan masih terkendala status LSD atau LP2B," ujarnya di Temanggung, Jumat (10/7/2026).
Akibat kendala tersebut, pembangunan fisik hingga kini belum dapat dimulai.
Padahal, Kabupaten Temanggung bersama Kabupaten Wonosobo sama-sama ditetapkan sebagai daerah penerima pembangunan SR permanen tahap II pada 2025.
Berbeda dengan Temanggung, pembangunan SR permanen di Wonosobo sudah berjalan.
Lantaran persoalan lahannya telah tuntas sehingga proses konstruksi dapat segera dilaksanakan. Gedung tersebut diperkirakan mulai digunakan pada Juli hingga Agustus tahun ini.
Sementara itu, Sekolah Rakyat di Temanggung masih berstatus Sekolah Rakyat rintisan yang berlokasi di Sentral Kartini.
Saat ini terdapat lima rombongan belajar (rombel) dengan total 125 peserta didik atau masing-masing rombel berisi 25 siswa.
Meski belum memiliki gedung permanen, Temanggung tetap memperoleh tambahan kuota penerimaan peserta didik baru.
Yakni sebanyak dua rombongan belajar atau sekitar 60 siswa pada tahun ajaran ini.
Namun, karena gedung permanen belum tersedia, seluruh siswa baru tersebut akan menjalani proses belajar mengajar sementara di Sekolah Rakyat Wonosobo.
"Sebanyak 60 siswa baru akan dititipkan sementara di SR Wonosobo. Sementara lima rombongan belajar yang sudah ada tetap belajar di Sentral Kartini dan kini naik ke kelas XI," jelas Tomo.
Saat gedung permanen telah berdiri, kapasitas setiap rombongan belajar akan ditingkatkan menjadi 30 siswa, berbeda dengan SR Rintisan yang saat ini hanya menampung 25 siswa per kelas.
"Pemerintah terus berupaya menyelesaikan persoalan status lahan agar pembangunan Sekolah Rakyat permanen dapat segera direalisasikan. Sehingga seluruh peserta didik dapat belajar di daerahnya sendiri," tambah Tomo. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo