Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Surplus Telur Tekan Harga di Temanggung, Pemda Siapkan Sejumlah Langkah Penanganan

Devi Khofifatur Rizqi • Rabu, 8 Juli 2026 | 17:46 WIB
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Dinkopdag) Kabupaten Temanggung, Ponco Marbagyo. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Dinkopdag) Kabupaten Temanggung, Ponco Marbagyo. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Sejumlah langkah untuk mengatasi surplus produksi telur ayam dilakukan Pemerintah Kabupaten Temanggung. Pasalnya, surplus menyebabkan harga di tingkat peternak terus tertekan. 

Salah satu upaya yang dilakukan dengan mendukung inventarisasi daerah surplus dan defisit telur. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Dinkopdag) Kabupaten Temanggung, Ponco Marbagyo, mengatakan, saat ini Temanggung menjadi salah satu daerah dengan pasokan telur yang melimpah.

Kondisi itu membuat harga di tingkat peternak turun hingga di bawah Rp20.000 per kilogram.

"Yang menjadi persoalan saat ini adalah suplai telur berlebih, sedangkan konsumsi masyarakat relatif tetap. Akibatnya harga di tingkat peternak terus tertekan," katanya Rabu (8/7/2026).

Menurut Ponco, Kemendag telah meminta data daerah yang mengalami surplus maupun kekurangan pasokan telur.

Setelah proses inventarisasi selesai, telur dari daerah surplus akan didistribusikan ke daerah yang mengalami kekurangan melalui skema kerja sama antardaerah.

Baca Juga: Harga Telur Anjlok Rp17 Ribu per Kg, Peternak Tak Kuat Menahan Rugi

"Langkah awalnya sekarang masih inventarisasi. Nanti setelah diketahui daerah yang surplus dan minus, hasil produksi dari daerah surplus akan disalurkan ke daerah yang membutuhkan. Kalau memungkinkan juga akan dijajaki ekspor," jelasnya.

Distribusi tersebut dapat mengangkat harga telur di tingkat peternak. Yakni mendekati harga acuan pemerintah yang berada di kisaran Rp26.500 per kilogram. 

Saat ini harga telur di tingkat konsumen masih berkisar Rp23.000 hingga Rp24.000 per kilogram.

Ponco menjelaskan, melimpahnya pasokan dipengaruhi berkurangnya penyerapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara produksi peternak tetap tinggi. Kondisi itu menyebabkan stok menumpuk di pasaran.

Karena harga telur justru sedang rendah, Pemkab Temanggung tidak akan menggelar operasi pasar atau gerakan pembelian bersubsidi.

Menurutnya, kebijakan tersebut umumnya dilakukan ketika harga pangan melonjak.

"Sebagai langkah jangka panjang, kami  mendorong pemanfaatan cold storage atau gudang penyimpanan berpendingin," jelasnya.

Fasilitas tersebut dinilai dapat membantu menyimpan komoditas yang mudah rusak. Seperti telur, cabai, dan sayuran, sehingga pasokan ke pasar dapat diatur lebih baik dan gejolak harga tidak terlalu tajam.

"Harapannya dengan adanya cold storage, stok bisa disimpan lebih lama sehingga ketika produksi melimpah tidak langsung membanjiri pasar. Dengan begitu fluktuasi harga bisa lebih terkendali," tandas Ponco. (dev/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#surplus telur #inventarisasi daerah kekurangan telur #ponco marbagyo #Dinkopdag Kabupaten Temanggung