RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Musim panen kopi tahun ini belum sepenuhnya berpihak kepada petani di Kabupaten Temanggung.
Lantaran, hasil panen turun hingga 60 persen. Kondisi itu dipengaruhi musim kemarau basah tahun lalu yang membuat bunga kopi rontok.
Saat ini, harga kopi robusta masih bertahan di kisaran Rp58.000 per kilogram. Angka itu untuk kopi kering campuran bukan petik merah.
Salah seorang petani kopi di Desa Plosogaden, Desa Candiroto, Kecamatan Candiroto, Wawoh, 50, mengatakan, buah kopi yang dipanen tahun ini jauh lebih sedikit dibandingkan musim normal.
Banyak bunga kopi berguguran saat musim kemarau basah tahun lalu. Sehingga gagal berkembang menjadi buah.
"Buahnya memang tidak terlalu banyak. Waktu bunga keluar, musim kemarau justru masih sering hujan sehingga banyak yang rontok," ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Wawoh yang mengelola kebun kopi robusta seluas satu hektare ini mengaku harga kopi kering mencapai Rp58.000 per kilogram.
Sedangkan kopi basah dijual sekitar Rp15.500 per kilogram.
Harga tersebut relatif sama dengan musim panen tahun lalu.
Namun, menurutnya, harga saat ini masih jauh di bawah harga yang pernah dinikmati petani beberapa tahun lalu, ketika kopi robusta sempat menembus Rp100.000 per kilogram.
"Kalau tahun kemarin harganya hampir sama. Yang pernah tinggi itu sampai Rp100 ribu per kilogram," katanya.
Setelah dipanen, biji kopi harus dijemur selama sekitar empat hari dengan kondisi cuaca panas.
Supaya mencapai tingkat kekeringan yang sesuai sebelum dijual kepada pengepul. Kondisi yang dialami Wawoh juga terjadi di sejumlah sentra kopi lainnya di Kabupaten Temanggung.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Sumarno, mengatakan, hasil taksasi menunjukkan produksi kopi robusta tahun ini turun sekitar 40 hingga 60 persen.
Penurunan dipicu tingginya curah hujan pada musim pembungaan yang menyebabkan banyak bunga rontok.
Selain itu, kelembapan yang tinggi juga memicu serangan jamur pada tanaman kopi.
"Memang tahun ini terjadi penurunan produksi sekitar 40 sampai 60 persen akibat iklim ekstrem tahun lalu," kata Sumarno.
DKPPP berharap, harga kopi masih berpotensi meningkat saat puncak panen pada Juli hingga Agustus.
Sehingga dapat membantu mengurangi dampak penurunan produksi yang dialami para petani.
"Semoga harga kopi meningkat. Supaya biaya pertanian kopi ini nutup bagi petani," tambah Sumarno. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo