RADARMAGELANG.ID, Temamggung - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Temanggung menegaskan pemanfaatan Gedung MWC NU Tretep sebagai lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG), merupakan upaya membangun kemandirian ekonomi organisasi.
Itu dilakukan melalui optimalisasi aset yang dimiliki.
Sebelumnya, ramai di jagat maya mengenai gedung MWC NU Tretep di Desa Bojong, Kecamatan Tretep, yang dimanfaatkan sebagai lokasi SPPG.
Bangunan itu berwarna biru putih. Namun, terdapat tulisan MWC NU Tretep di atasnya.
Ternyata, pemanfaatan gedung untuk SPPG hanya di lantai satu saja.
Sedangkan lantai 2 bangunan, digunakan sebagai ruangan dan aktivitas organisasi.
Menanggapi ini, Sekretaris PCNU Temanggung Sukron Wahid angkat bicara. Ia mengatakan, organisasi membutuhkan sumber pendanaan yang berkelanjutan.
Itu untuk menjalankan berbagai kegiatan. Karena itu, aset-aset NU didorong agar lebih produktif tanpa menghilangkan fungsi utamanya. Yakni sebagai sarana aktivitas organisasi.
"Aktivitas organisasi itu membutuhkan biaya. Karena itu, kami ingin mendorong kemandirian organisasi. Sekaligus mengoptimalkan aset-aset yang kami miliki agar lebih produktif," katanya saat ditemui, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, pemanfaatan gedung untuk dapur MBG merupakan salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi.
Itu sejalan dengan kepentingan organisasi maupun masyarakat.
Selain menghasilkan pendapatan bagi organisasi, program tersebut juga mendukung pelaksanaan MBG yang menjadi prioritas pemerintah.
"Ini juga merupakan program prioritas pemerintah dan Presiden. Manfaatnya kembali kepada masyarakat. Sementara organisasi juga memperoleh manfaat dari pemanfaatan aset yang dimiliki," ujar Sukron.
Sukron menjelaskan, penggunaan Gedung MWC NU Tretep telah disepakati melalui musyawarah pengurus MWC NU bersama pengurus ranting serta badan otonom (banom).
Secara aturan internal, tidak ada larangan memanfaatkan aset organisasi untuk kegiatan produktif. Itu selama tetap mendukung kepentingan organisasi.
Terlebih, dapur SPPG hanya menggunakan lantai bawah. Sehingga aktivitas organisasi tetap berjalan di aula lantai atas (lantai dua).
"Kalau ada tempat yang bisa dimanfaatkan, kenapa tidak? Yang menerima manfaat adalah warga kita, relawan yang menjalankan juga kader-kader NU. Jadi manfaatnya dirasakan bersama," katanya.
Konsep pemberdayaan aset organisasi telah diterapkan di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Temanggung.
Di Parakan, misalnya, gedung NU dimanfaatkan sebagai minimarket di lantai bawah, sementara kegiatan organisasi berlangsung di lantai atas.
Lalu gedung NU di Bejen, terdapat aset yang dimanfaatkan sebagai warung bakso.
Sedangkan di Tembarak, terdapat aset yang digunakan untuk usaha perdagangan.
Menurut Sukron, langkah ini bagian dari strategi NU untuk menciptakan sumber pembiayaan organisasi yang mandiri.
Yakni tanpa bergantung sepenuhnya pada iuran anggota.
"Kami mendorong kemandirian organisasi. Jadi aset-aset kita (NU) agar produktif," tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Temanggung Dani Wardoyo mengatakan, dapur SPPG di Tretep tersebut telah beroperasi sejak April lalu.
Operasionalnya di bawah yayasan yang bernaung di PBNU.
Fasilitas program pemerintah ini melayani sekitar 1.500 pelajar penerima manfaat.
"Ada 30 relawan yang mengoperasikan dapur. Itu pun dari warga lokal," ujarnya.
Melalui optimalisasi aset organisasi, PCNU Temanggung berharap kemandirian ekonomi organisasi dapat terus diperkuat. Itu sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
"Ini ikhtiar untuk kemandirian ekonomi organisasi, melalui program-program sosial dan pemerintah," tambah Dani. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo