RADARMAGELANG.ID, Temamggung — Keprihatinan terhadap semakin rusaknya lingkungan hidup disuarakan melalui panggung sastra.
Kali ini, Komunitas Studi Sastra Tiga Gunung (KSS3G) Temanggung menggelar pentas seni bertajuk Ketika Progo Mengering, Sastra Harus Bicara di Taman Kali Progo, Temanggung, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan ini bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup.
Beragam pertunjukan dilakukan. mulai dari pembacaan puisi, cerpen, pantomim hingga teater.
Sebagai media refleksi sekaligus kritik terhadap persoalan lingkungan.
Ketua KSS3G Temanggung, Asrul Sanie, mengatakan, momentum Bulan Lingkungan Hidup dipilih agar masyarakat kembali menaruh perhatian terhadap kondisi alam yang terus mengalami degradasi.
"Hari ini ekosistem rusak, polusi, perubahan iklim, dan bencana sering terjadi di sekitar kita. Ini adalah langkah kecil kita sebagai wujud perhatian kepada alam," ujar Asrul.
Pesan pelestarian lingkungan disampaikan melalui berbagai karya yang ditampilkan.
Salah satunya puisi Tanah Hutan Hanya Warisan Cerita yang dibacakan Angelina Meisa, peserta berdarah Papua.
Puisi tersebut menggambarkan luka akibat kerusakan hutan di Papua.
Ini terinspirasi dari kisah yang didengar langsung dari ayahnya yang hingga kini masih tinggal di Papua.
Kritik terhadap eksploitasi alam juga hadir dalam pembacaan cerpen Kalang Kabut karya Bayu Tholafudin.
Cerita tersebut mengisahkan seorang pekebun karet yang mengeksploitasi lahan secara berlebihan hingga menimbulkan kerusakan lingkungan.
Isu lingkungan semakin kuat melalui pertunjukan Teater Hayat yang membawakan naskah Kerakusan Penyebab Kerusakan garapan sutradara Christanta Adyaksa.
Pertunjukan tersebut mengangkat tema keserakahan manusia sebagai penyebab utama rusaknya keseimbangan alam.
Pelajar juga turut ambil bagian. Rafa dan Kevin, siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Temanggung, mementaskan pantomim berjudul Aku dan Lautan di bawah bimbingan pelatih teater Nela Nur Musoha.
"Ini mengisahkan dua remaja yang menemukan pantai tempat mereka bermain dipenuhi sampah plastik," kata Rafa.
Remaja itu menemukan sampah plastik saat berupaya membersihkan laut dan menyelamatkan seekor penyu yang terjerat jaring.
Salah satu tokoh justru ikut terjebak sebelum akhirnya berhasil diselamatkan temannya.
"Kisah itu menyampaikan pesan, kelestarian laut hanya dapat terjaga apabila manusia menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan" ujarnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo