Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Bajan Baku Melonjak, Perajin Woodcraft Terpaksa Naikkan Harga Produk

Devi Khofifatur Rizqi • Minggu, 7 Juni 2026 | 21:26 WIB
Pemilik usaha plywood di Temanggung mulai terdampak kenaikan nilai tukar dolar.  (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Pemilik usaha plywood di Temanggung mulai terdampak kenaikan nilai tukar dolar. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

RADARMAGELANG.ID, Temanggung– Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh Rp18.000 mulai memukul industri kerajinan kayu (woodcraft) di Kabupaten Temanggung.

Lonjakan harga bahan baku memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian harga jual produk.

Hal itu demi menjaga keberlangsungan usaha.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Ristiyanto.

Merupakan pemilik usaha woodcraft di Desa Madureso, Kecamatan Temanggung.

Baca Juga: Raksasa Industri Kayu Wonosobo CV Mekar Abadi Bangkrut, 1200 Buruh Harian Lepas Kehilangan Pekerjaan

Ia mengaku hampir seluruh material penunjang produksi mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir. 

Menurutnya, kenaikan terjadi pada berbagai bahan baku seperti plywood, multipleks, akrilik, HMR, hingga kayu. Rata-rata kenaikan harga berkisar antara 10 hingga 15 persen.

"Semua material naik. Plywood, multipleks, akrilik, HMR, termasuk kayu. Hampir semuanya mengalami kenaikan antara 10 sampai 15 persen," ujarnya, Minggu (7/6/2026).

Ristiyanti mencontohkan, harga woodfiller atau dempul kayu yang sebelumnya Rp270 ribu per lima kilogram kini naik menjadi Rp303 ribu.

 Sementara triplek 12 milimeter melonjak dari Rp120 ribu menjadi Rp155 ribu per lembar.

Tak hanya itu, harga triplek 8 milimeter naik dari Rp80 ribu menjadi Rp110 ribu per lembar.

Sedangkan triplek 3 milimeter yang sebelumnya Rp45 ribu kini mencapai Rp65 ribu per lembar.

Menghadapi situasi tersebut, Ristiyanto mengaku terpaksa melakukan penyesuaian harga produk secara bertahap.

Langkah itu diambil agar beban kenaikan biaya produksi tidak seluruhnya ditanggung pelaku usaha.

"Kami sudah melakukan antisipasi dengan menaikkan harga secara bertahap agar dampaknya bisa ditekan," katanya.

Selain menaikkan harga, pihaknya juga berupaya mempertahankan pelanggan melalui penguatan hubungan dengan buyer.

Strategi tersebut dilakukan agar pesanan tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Meski demikian, tekanan biaya produksi tetap berdampak terhadap kinerja usaha.

Selama Mei 2026, omzet usaha woodcraft miliknya tercatat turun sekitar 25 persen dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

 "Pada Mei kemarin omzet turun sekitar 25 persen," ungkapnya.

Ristiyanto berharap, kondisi nilai tukar rupiah segera membaik agar harga bahan baku kembali stabil.

Menurutnya, kepastian harga material sangat dibutuhkan pelaku UMKM untuk menjaga daya saing.

Itu sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Kalau harga bahan baku terus naik, tentu akan semakin berat bagi usaha kecil. Harapannya kondisi segera membaik sehingga usaha tetap bisa berjalan dengan baik," tandasnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#kenaikan harga bahan baku #industri kerajinan kayu #dolar naik