Adalah Catur Tutiyati, pendiri Lembaga Keterampilan dan Pelatihan (LKP) Tuti Modiste di Temanggung. Selama lebih dari empat dekade ia mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan keterampilan menjahit kepada masyarakat.
Di sebuah rumah sederhana di Jalan Gajah Mada, Tepungsari, Walitelon Selatan, Temanggung, suara mesin jahit tak pernah benar-benar berhenti.
Dari tempat itu, ribuan perempuan belajar mengubah keterampilan menjadi sumber penghidupan.
Berawal dari dua murid pada 1985, kini lembaga yang dirintis Tuti telah melahirkan lebih dari 5.000 alumni yang tersebar di berbagai daerah.
"Awalnya hanya dua orang kursus reguler. Lalu ada 15 anak yang belajar sampai benar-benar bisa menjahit dan mandiri," kenang Tuti saat ditemui di tempat kursusnya, Jumat (5/6/2026).
Kala itu, perempuan bergelar sarjana hukum tersebut belum menikah. Hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk mengajar.
Dari Senin hingga Sabtu, wanita berusia 62 tahun ini mendampingi para peserta kursus dari pagi hingga sore hari.
Di sela-sela kesibukan itu, Tuti juga menerima pesanan jahitan dari warga sekitar untuk menambah pemasukan.
Perjalanan panjang itu kini membuahkan hasil.
Banyak alumninya yang bekerja di perusahaan garmen, membuka usaha jahit rumahan, hingga memiliki usaha konveksi sendiri.
"Ada yang kerja di garmen, ada yang buka usaha sendiri. Yang penting mereka bisa menghasilkan uang dan membantu ekonomi keluarga," ujarnya.
Tak hanya menjahit, LKP Tuti Modiste juga mengembangkan berbagai pelatihan keterampilan lain seperti bordir, tata boga, hingga pembuatan hantaran.
Bahkan, untuk menjangkau masyarakat desa, ia menerapkan sistem jemput bola dengan mengirim instruktur langsung ke lokasi pelatihan.
Dedikasinya di dunia pendidikan nonformal juga membawanya aktif dalam berbagai organisasi kursus dan pelatihan tingkat nasional.
Ia kerap mengikuti forum, lokakarya, hingga pertemuan penguji dan pendidik dari seluruh Indonesia di luar negeri.
Meski demikian, perjalanan membangun lembaga pelatihan bukan tanpa tantangan.
Salah satu yang paling sering ditemui adalah peserta yang sebenarnya tidak memiliki minat belajar.
"Kadang yang ingin kursus itu ibunya, bukan anaknya. Akhirnya di sini cuma main HP. Itu yang sering jadi tantangan," tuturnya sambil tersenyum.
Kesulitan lain muncul ketika peserta harus belajar membuat pola pakaian yang membutuhkan kemampuan berhitung.
Menurutnya, tidak semua peserta langsung mampu memahami rumus-rumus dasar dalam tata busana.
Namun bagi Tuti, kesabaran adalah modal utama seorang pengajar keterampilan.
"Mengajar di sini harus sabar, teliti, dan tidak boleh mudah menyerah," katanya.
Komitmen itu membuat LKP Tuti Modiste terus dipercaya pemerintah untuk menjalankan berbagai program pelatihan kerja.
Kerja sama pernah dijalin dengan Dinas Tenaga Kerja hingga Kementerian Pendidikan melalui program pelatihan kewirausahaan.
Alumni Tuti tidak hanya berasal dari Temanggung.
Beberapa peserta datang dari luar daerah bahkan luar pulau.
Hingga kini, mantan peserta dari Papua maupun Malang masih sering menghubunginya melalui panggilan video untuk berkonsultasi soal teknik menjahit.
"Ada yang telepon dari Papua, dari Malang. Kalau mengalami kesulitan membuat pola atau menjahit, mereka masih tanya ke saya," ujarnya.
Di usianya yang sudah menginjak 62 tahun, semangat Tuti belum surut.
Ia masih aktif naik turun tangga menuju ruang pelatihan setiap hari.
Bersama dua anaknya yang disiapkan sebagai penerus, Tuti berharap lembaga yang dirintisnya terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo