RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Penyelidikan kasus tewasnya empat anggota keluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, di lokasi glamping kawasan wisata Kabupaten Temanggung, terus berlanjut.
Polisi mengungkap, hingga kini terdapat dua dugaan kuat penyebab kematian para korban. Yakni keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran saat aktivitas barbeque.
Kasatreskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan, penyidik masih melakukan pendalaman dengan memeriksa saksi-saksi. Ada empat saksi yang dimintai keterangan. Dari unsur pengelola kawasan wisata.
Pihaknya juga menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik dari Polda Jawa Tengah.
“Untuk perkembangan sampai saat ini, Satreskrim Polres Temanggung masih melaksanakan penyelidikan dan pendalaman. Kami juga masih memeriksa saksi-saksi untuk mendalami keterangan yang diberikan,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Komang menjelaskan, otopsi terhadap salah satu korban telah dilakukan pada Kamis (28/5/2026). Berdasarkan pemeriksaan awal dokter forensik, terdapat dua dugaan utama penyebab kematian.
“Dugaan kuat sementara ada dua kemungkinan. Pertama keracunan makanan, kedua keracunan gas hasil pembakaran. Namun ini masih dugaan awal, kami masih menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium,” katanya.
Otopsi dilakukan terhadap korban berinisial AEH, 17, seorang pelajar. AEH merupakan anggota keluarga termuda.
Ia dipilih sebagai satu-satunya korban yang diotopsi atas persetujuan keluarga. Terlebih, AEH dalam kondisi fisik paling prima karena berstatus atlet.
Menurut Komang, penyidik mengusulkan otopsi menyeluruh terhadap seluruh korban. Namun, pihak keluarga keberatan. Hingga akhirnya hanya satu jenazah yang diperiksa secara mendalam.
“Dari pihak keluarga hanya mengizinkan satu korban untuk diotopsi. Dipilih AEH karena dianggap yang paling sehat dan paling muda,” jelasnya.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan satu set kompor gas portable berada tepat di teras atau mulut tenda.
Saat ditemukan, posisi regulator masih terpasang dalam kondisi off. Namun, tabung gas sudah kosong.
Temuan ini menguatkan dugaan keracunan gas karbon monoksida (CO) dari proses pembakaran barbeque.
“Kompor berada tepat di depan pintu tenda. Dugaan sementara, gas hasil pembakaran naik dan masuk ke dalam tenda," terang Komang.
Tenda glamping yang ditempati korban MAM, M, AEH, dan BAH, berbentuk tenda limas. Tenda tersebut berukuran sekitar 4x7 meter dengan kapasitas maksimum 4 orang.
Selain itu, fasiltas tenda dari pengelola cukup minim. Hanya ada dua kasur, dan sleeping bag.
"Jadi hanya itu saja (fasilitasnya). Dan kosong blas, di dalam tenda itu nihil tidak ada hal lain. Seperti penghangat atau water heater juga tidak ada di dalam tenda," tegas Kasatreskrim.
Komang menyebut, gas karbon monoksida diduga bersumber dari asap pembakaran barbeque. Kemungkinan asap tersebut terperangkap di dalam tenda.
"Setelah korban beristirahat usai bakar-bakar (barbeque), pintu dan ventilasi kanan-kiri tenda tertutup rapat. Sehingga dimungkinkan gas terhirup terus-menerus,” terang Komang.
Dari TKP, polisi tidak menemukan tanda-tanda muntahan ataupun indikasi lain yang mengarah kuat pada keracunan makanan.
“Kalau keracunan makanan umumnya ada gejala seperti muntah. Namun saat olah TKP, baik di dalam maupun sekitar tenda tidak ditemukan bekas muntah,” ujarnya.
Meski demikian, sisa makanan berupa daging, sosis, jagung, tahu, selada, dan nasi putih yang dibawa korban untuk barbeque tetap diamankan untuk diperiksa di laboratorium.
Selain itu, sejumlah barang bukti lain turut diamankan. Yakni lima unit telepon genggam berbagai merek, satu unit mobil Honda Jazz, satu kamera, satu set kompor gas portable, serta tungku tanah liat untuk membakar briket.
Hingga kini, polisi telah memeriksa empat saksi dari unsur pengelola lokasi wisata. Pemeriksaan lanjutan masih dilakukan untuk mendalami kronologi kejadian.
Dari hasil pemeriksaan dokter, keempat korban diperkirakan telah meninggal 8 hingga 12 jam, sebelum ditemukan pada pukul 15.45 WIB. Saat ditemukan, tubuh korban telah dalam kondisi kaku dan tangan menggenggam.
“Perkiraan sementara, korban meninggal antara malam hingga pagi hari sebelum ditemukan sore harinya,” kata Komang.
Polisi juga memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh para korban, baik akibat benda tajam maupun benda tumpul.
Saat ini, penyidik masih menunggu hasil resmi otopsi dan laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian empat korban tersebut.
“Dugaan sementara memang lebih mengarah pada gas hasil pembakaran, tetapi kami tetap menunggu hasil final dari Bidokkes dan Labfor Polda Jawa Tengah,” tandas I Komang. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo