RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Temanggung.
Kali ini, ratusan siswa dan belasan guru dari jenjang KB hingga SMP mengalami gejala gangguan pencernaan, usai menyantap paket MBG pada Senin (18/5/2026).
Salah satu sekolah yang mengalami dampak tersebut yakni SMP Negeri 4 Temanggung. Bahkan, satu guru di sekolah itu hingga Kamis (21/5/2026) masih menjalani perawatan di RSUD Temanggung.
Selain itu, terdapat dua siswa yang sempat dirawat di rumah sakit. Namun, satu di antaranya sudah diperbolehkan pulang.
"Iya benar. Sampai saat ini (Kamis) masih ada guru kami yang dirawat di RSUD sejak Selasa. Untuk siswa sudah ada yang diperbolehkan pulang," ungkap PIC Program MBG SMP Negeri 4 Temanggung, Ismu Alim, saat ditemui wartawan Kamis (21/5/2026).
Ismu menerangkan, dugaan keracunan di sekolahnya, bermula setelah sekolah menerima 600 paket MBG dari SPPG Temanggung Tlogorejo 001 yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Krajan, Tlogorejo, Kecamatan Temanggung. Paket menu diterima sekitar pukul 10.00 WIB pada Senin (18/5/2026).
Menu yang dibagikan saat itu berupa nasi kuning, telur dadar, orek tempe, abon, semangka, mentimun, dan tomat.
“Pada hari Selasa banyak murid yang absen karena keluhan diare, sakit perut, mual, muntah dan pusing,” kata Ismu.
Baca Juga: Imbas Edarkan Menu MBG Berjamur, SPPG Giyanti Temanggung Ditutup Sepekan
Makanan tersebut, lanjut Ismu, dikonsumsi siswa kelas 9 sekitar pukul 10.30 WIB. Sedangkan, siswa kelas 7 dan 8 makan pada pukul 11.00 hingga 11.35 WIB.
Setelah muncul banyak keluhan, tim MBG SMPN 4 Temanggung melakukan pendataan melalui google form dalam dua tahap.
Hasil akhir menunjukkan sebanyak 232 siswa serta 16 guru dan tenaga administrasi mengalami gejala gangguan pencernaan.
“Dua murid sempat dirawat di RSUD Temanggung dan Rumah Sakit Gunung Sawo. Kemudian satu guru juga masuk RSUD karena diare sejak dini hari,” ujarnya.
Menurut Ismu, pada Rabu (20/5/2026) pihak sekolah sempat menolak distribusi MBG.
Namun karena makanan sudah terlanjur dimasak, paket tetap dikirim ke sekolah meski banyak siswa memilih tidak memakannya.
“Hari Kamis kami menolak untuk diantarkan MBG dan dari pihak SPPG juga sudah tidak mendistribusikan,” katanya.
Ismu membeberkan, distribusi MBG disebut dihentikan sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan.
"Informasi sekarang dihentikan sementara. Sampai kapannya belum tau," bebernya.
Sementara Plt Kepala SMP Negeri 4 Temanggung, Tri Marwanti, mengatakan, pihak sekolah langsung mengambil langkah penghentian program MBG setelah menerima laporan banyak siswa sakit.
“Setelah saya mendapatkan laporan dari tim PIC kami, saya melakukan tindakan yang pertama langsung menghentikan MBG tersebut dengan maksud agar tidak terulang kembali,” kata Tri.
Ia berharap, pihak penyedia makanan lebih teliti dalam proses pengolahan dan pengemasan makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
“Alangkah lebih baiknya kalau makanan yang diberikan kepada anak-anak ini betul-betul sudah dites okeh ahli gizi dan memang layak diberikan (ke siswa)," ujarnya.
Informasi diperoleh, laporan sementara yang beredar menyebut dugaan keracunan tidak hanya terjadi di SMP Negeri 4 Temanggung.
Melainkan juga di sejumlah sekolah lain penerima MBG dari SPPG Tlogorejo.
Data sementara mencatat siswa dan guru mengalami gejala mual, muntah, hingga diare setelah mengkonsumsi menu MBG dari SPPG Tlogorejo Temanggung.
Sekolah yang menjadi korban di antaranya SMP 4 Temanggung ada ratusan siswa terdampak serta 2 siswa dan 1 guru masuk rumah sakit.
Lalu SD Tlogorejo 3 siswa terkena dampak, SMK HKTI ada 17 siswa dan 3 guru terdampak, serta KB Al-Kautsar ada 1 siswa.
Kemudian dari SMP Al-Kautsar ada 9 guru dan 2 siswa terdampak, RA Masyitoh Jurang ada 2 siswa dan 2 guru, KB Masyitoh Jurang ada 1 guru, serta SMP Al Hudhlori ada 26 siswa terdampak.
Mengenai kejadian ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung bersama pihak kecamatan telah turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan dan pendalaman penyebab dugaan keracunan tersebut.
"Iya. Kami masih melakukan penyelidikan epidemiologis. Makanan baru dikirim ke laboratorium. Info yang kami terima 200-an penerima manfaat (terkena dampak keracunan)," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Temanggung dr. Intan Pandanwangi, dalam pesan singkat. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo