Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Tradisi Nublek Kopi Tandai Awal Panen Raya Kopi di Temanggung, Ungkap Syukur atas Hasil Bumi Melimpah

Devi Khofifatur Rizqi • Rabu, 20 Mei 2026 | 14:38 WIB
Warga mengikuti tradisi Nublek Kopi di Desa Gunung Gempol, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Rabu (20/5/2026). (Istimewa)
Warga mengikuti tradisi Nublek Kopi di Desa Gunung Gempol, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Rabu (20/5/2026). (Istimewa)

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Tradisi Nublek Kopi di Desa Gunung Gempol, Kecamatan Jumo, menjadi tanda dimulainya musim panen kopi 2026 di Kabupaten Temanggung, Rabu (20/5/2026).

Ratusan warga desa tersebut antusias mengikuti tradisi. Sejak pukul 07.00 WIB warga mulai berdatangan ke sekitar pendopo desa.

Mereka membawa beragam makanan tradisional seperti nasi tumpeng megono, jajanan pasar, hingga buah-buahan. 

Warga kemudian berkumpul di sepanjang jalan desa untuk mengikuti rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.

Sesepuh Desa Gunung Gempol, Saryono, 76, mengatakan, tradisi Nublek Kopi telah dilaksanakan masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang diberikan.

“Tradisi ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanah, melimpahnya sumber air, dan hasil pertanian yang baik. Selain itu juga sebagai doa agar panen kopi tahun ini diberi kelancaran dan hasil yang melimpah,” katanya.

Saryono menyebut, Nublek Kopi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. 

Sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga: Tradisi Mepe Jaran Kepang di Temanggung, Rangkul Ribuan Pecinta Seni

“Kalau tradisi seperti ini tidak dijaga, generasi muda nanti bisa melupakan budaya desa sendiri. Karena itu kami terus melibatkan anak-anak dan pemuda dalam setiap kegiatan adat,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan doa bersama. Selanjutnya, warga menggelar makanan yang dibawa dari rumah di atas daun pisang untuk disantap bersama.

Suasana penuh keakraban tampak saat warga makan bersama sambil bercengkerama dan saling berbagi makanan.

Acara dilanjutkan dengan ritual wiwit atau memetik kopi perdana sebagai simbol dimulainya musim panen kopi 2026.

Kepala Desa Gunung Gempol, Ahmad Riyadi, mengatakan, tradisi Nublek Kopi tidak hanya memiliki nilai budaya.

Tetapi menjadi bagian dari identitas desa penghasil kopi robusta di wilayah lereng pegunungan Temanggung.

“Mayoritas masyarakat di sini merupakan petani kopi robusta. Tradisi Nublek Kopi menjadi bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus pengingat agar masyarakat tetap menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.

Ia menambahkan, Desa Gunung Gempol selama ini juga dikenal sebagai desa percontohan konservasi lingkungan dengan aturan larangan perburuan burung di wilayah desa.

“Kami berupaya menjaga keseimbangan alam karena keberlangsungan pertanian kopi juga sangat bergantung pada ekosistem yang baik,” ujarnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Tradisi Nublek Kopi #Gunung Gempol Jumo #wiwit panen kopi #ungkap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa #percontohan konservasi lingkungan