RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Kolaborasi lintas sektor digencarkan Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk menekan angka stunting. Terlebih angka stunting masih cukup besar.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Temanggung, dr Intan Pandanwangi mengatakan untuk menekan angka stunting pihaknya memperkuat layanan kesehatan di tingkat desa dengan menggandeng CSR satuan layanan pemenuhan gizi (SPPG).
Saat ini angka stunting di Temanggung berada di kisaran 14,3 persen atau sekitar 5.000 kasus.
Data tersebut data EPPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat). Meski relatif stabil, upaya penurunan terus digencarkan dengan melibatkan berbagai pihak.
“Kami mendorong agar SPPG di Temanggung berperan dalam penurunan stunting. Lewat program CSR ini," katanya di Balai Desa Kertosari, Kecamatan Jumo, Selasa (5/5/2026).
Intan menyebut, program CSR dari SPPG untuk penurunan stunting baru dilakukan oleh Yayasan Bina Keluarga Sehat Sejahtera (YBKSS).
Ia mengapresiasi lantaran diberikan bantuan peralatan untuk posyandu.
Intan berharap program makan bergizi gratis (MBG) yang menyasar kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting.
Kendati demikian, hingga saat ini pihaknya masih menunggu data komparatif untuk mengukur dampak program tersebut secara menyeluruh.
Sementara itu, Ketua YBKSS, Rizky Wicaksono, menjelaskan, kegiatan CSR yang dilakukan merupakan bagian dari komitmen yayasan dalam mendukung program pemerintah di bidang kesehatan.
“Kami fokus pada upaya penanganan stunting. Bantuan yang kami berikan berupa alat kesehatan untuk posyandu, agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih optimal,” katanya.
Rizky menyebut, bantuan tersebut disalurkan ke 21 posyandu di sejumlah desa di Kecamatan Jumo.
Ketua Posyandu Desa Kertosari, Rumiati, mengaku bantuan alat kesehatan seperti timbangan balita, alat cek gula darah, mainan anak, hingga perlengkapan administrasi sangat membantu operasional pelayanan.
“Selama ini memang masih ada kekurangan alat. Dengan bantuan ini, pelayanan bisa lebih maksimal. Harapannya kebutuhan gizi anak-anak juga semakin tercukupi,” ujarnya.
Rumiati menambahkan, kasus stunting di wilayahnya saat ini tersisa satu anak. Menurun dari sebelumnya tiga kasus.
Kondisi tersebut diharapkan terus membaik seiring peningkatan layanan dan intervensi gizi. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo