RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Masyarakat dan petani di lereng Gunung Sindoro-Sumbing menggelar prosesi sakral Nyadran Ageng Bhumi Phala di kawasan Rest Area Kledung, Sabtu (2/5/2026).
Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur. Sekaligus ikhtiar doa untuk keberkahan hasil pertanian di Kabupaten Temanggung.
Slametan Olah Tetanen ini, diawali dengan kirab budaya dari Lapangan Desa Kledung.
Peserta mengarak gunungan hasil bumi, tumpeng robyong, hingga tujuh kendi berisi air dari tujuh sumber mata air (sapta tirta).
Prosesi dilanjutkan dengan jamas pitu. Yakni penyucian tujuh alat pertanian seperti cangkul, sabit, dan perlengkapan lainnya.
Angka tujuh dalam filosofi Jawa melambangkan pitulungan atau harapan akan pertolongan Tuhan bagi kesejahteraan masyarakat.
Bupati Temanggung Agus Setyawan, mengatakan, acara ini bukan sekadar tradisi. Tetapi juga wujud syukur atas karunia alam.
“Yang pertama kita mensyukuri keindahan alam yang diberikan. Kedua, kita menghormati para leluhur yang telah mewariskan pertanian di Temanggung hingga seperti sekarang,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi momentum doa bersama para petani, seniman, dan masyarakat. Supaya tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh subur dan menghasilkan panen yang berkah.
“Ini juga sebagai ajang kebersamaan. Kita jaga semangat gotong royong untuk mewujudkan Temanggung yang aman, tenteram, dan sejahtera,” lanjut Agus.
Tahun ini, peringatan nyadran semakin meriah. Rangkaian acara ditutup dengan kembul bujana atau makan bersama sebagai simbol persatuan masyarakat.
Agus menyebut, ke depan Nyadran Ageng Bhumi Phala akan dijadikan sebagai agenda tahunan.
Sekaligus kalender event wisata daerah. Terlebih lokasi kegiatan berada di Rest Area Kledung yang dinilai memiliki potensi wisata. Lantaran berada di antara Gunung Sindoro dan Sumbing.
“Ini akan kita dorong menjadi kalender tahunan agar bisa menarik wisatawan dan menghidupkan kembali kawasan Kledung,” tandasnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo