Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Pemkab Temanggung Gencarkan Pelestarian Tari Bangilun hingga Desa

Devi Khofifatur Rizqi • Minggu, 3 Mei 2026 | 20:01 WIB
Ribuan warga Temanggung  memainkan tari Bangilun di rest area Kledung, Sabtu (2/5/2026). Tari ini simbol perlawanan terhadap penjajahan pada masa itu. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang).
Ribuan warga Temanggung memainkan tari Bangilun di rest area Kledung, Sabtu (2/5/2026). Tari ini simbol perlawanan terhadap penjajahan pada masa itu. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang).

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Tari Bangilun, kesenian khas Kabupaten Temanggung resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Ditetapkan pada Desember 2025, tari tradisional ini semakin eksis di kalangan masyarakat.

Itu terlihat dari antusiasme warga Temanggung menari Bangilun di Rest Area Kledung, Sabtu (2/5/2026).

Ribuan warga berbagai kalangan menari bersama dalam acara nyadran Bhumi Phala.

"Ini jadi kebanggaan kami. Khususnya para seniman dan pelaku budaya," ujar Bupati Temanggung, Agus Setyawan.

Selama ini, pelestarian kesenian tersebut sudah berjalan secara swadaya oleh masyarakat.

Para seniman dengan penuh kecintaan terus menjaga eksistensi Bangilun. Didukung pemerintah desa setempat.

“Para pelaku seni ini sudah luar biasa, mereka nguri-uri secara mandiri karena kecintaan terhadap seni. Pemerintah desa juga ikut mendukung, dan tentu Pemkab akan terus memberikan perhatian,” lanjut Agus.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Temanggung berencana memperluas pengenalan Tari Bangilun ke seluruh wilayah.

Tidak hanya terpusat di kawasan lereng Gunung Sindoro dan Sumbing.

“Kita akan coba kenalkan lebih luas lagi, tidak hanya di sekitar Sindoro-Sumbing, tetapi ke seluruh desa dan kelurahan di Temanggung,” tegas Agus.

Pemkab juga tengah mengusulkan kesenian tradisional lain. Seperti kuda lumping, agar dapat memperoleh pengakuan serupa di tingkat internasional melalui UNESCO.

“Untuk kuda lumping, saat ini masih dalam proses pengusulan ke UNESCO. Mohon doa agar bisa menyusul menjadi warisan budaya dunia,” bebernya.

Pengembangan kesenian daerah diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

Aktivitas seni yang menarik wisatawan dinilai dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect), khususnya bagi wilayah Kledung dan sekitarnya.

“Ketika banyak orang datang, tentu akan berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar. Ini juga bagian dari upaya menggerakkan sektor wisata di Temanggung,” tandas Agus.

Mbah Tenang, salah satu pegiat Tari Bangilun dari Kelompok Sri Lestari Desa Kledung, mengatakan, Bangilun merupakan kesenian asli dari Kabupaten Temanggung.  

Eksistensinya sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Tepatnya, saat era penjajahan kolonialisme Belanda.

“Saya ini adalah generasi ke-5 sebagai penggerak seni Bangilun, khususnya di wilayah Kledung. Seni ini sudah ada sejak Mbah Buyut saya,” ungkapnya.

Tenang menceritakan, Bangilun sejatinya merupakan bentuk ekspresi.

Simbol perlawanan masyarakat pribumi terhadap segala bentuk penjajahan serta penindasan oleh pemerintah kolonial Belanda kala itu, yang diwujudkan melalui sarana kesenian tari.

“Yang menjadi bukti adalah syair-syair saat Tari Bangilun dibawakan, masih memuat kisah perlawanan tersebut. Termasuk kepada kaum pribumi yang menjadi pengkhianat di era kolonialisme. Bahkan gerakannya juga menyiratkan ekspresi latihan perang,” imbuhnya.

Bangilun juga kental akan muatan religius yang tersirat dalam setiap syair yang dilantunkan.

Tari ini memiliki atribut tertentu sebagai ciri khas yang dikenakan melekat pada sang penari.

Yakni topi dan empok sebagai simbol perlindungan, selempang sebagai simbol kegagahan, dan sampur sebagai penghias atau simbol estetika.

“Jadi Tari Bangilun pada dasarnya adalah seni yang dikemas dengan nafas semangat perlawanan rakyat sekaligus pesan religi atau agama di dalamnya,” bebernya. (dev/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#rest area kledung #tari bangilun #Warisan Budaya Takbenda #Bupati Temanggung Agus Setyawan #unesco