Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Ekspor Sayur Beku Prospektif, Temanggung Siap Jadi Sentra Edamame dan Buncis

Devi Khofifatur Rizqi • Selasa, 28 April 2026 | 16:06 WIB
Bupati Agus Setyawan meninjau industri pengolahan sayuran beku PT Kelola Agro Makmur (KAM) di Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan, Senin (27/4/2026). (Prokompim Temanggung for Jawa Pos Radar Magelang)
Bupati Agus Setyawan meninjau industri pengolahan sayuran beku PT Kelola Agro Makmur (KAM) di Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan, Senin (27/4/2026). (Prokompim Temanggung for Jawa Pos Radar Magelang)

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Kabupaten Temanggung berpeluang menjadi sentra pengembangan edamame dan buncis untuk pasar ekspor. 

Potensi itu mengemuka seiring tingginya permintaan internasional terhadap komoditas sayuran beku.

Terlebih, adanya dukungan kemitraan industri yang menjanjikan kepastian pasar bagi petani.

Hal itu mengemuka saat Bupati Temanggung Agus Setyawan melakukan panen raya edamame sekaligus meninjau industri pengolahan sayuran beku PT Kelola Agro Makmur (KAM) di Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan, kemarin (27/4/2026).

Baca Juga: Sektor Pertanian Penyerap Tenaga Kerja Terbesar di Temanggung

Agus menyebut, keberadaan perusahaan pengolah sekaligus eksportir sayuran beku menjadi peluang besar untuk mendorong transformasi pertanian di Temanggung.

Tidak hanya bertumpu pada komoditas tradisional, petani didorong menangkap peluang pasar global melalui pengembangan edamame dan buncis.

"Kondisi geografis Temanggung yang berada di kawasan pegunungan sangat mendukung budidaya kedua komoditas itu," katanya.

Terlebih, sistem kemitraan yang diterapkan perusahaan lanjut Agus, memberi kepastian pembelian hasil panen serta klasifikasi harga yang lebih jelas bagi petani.

“Ini prospek yang bagus. Kami akan berusaha menjembatani kepentingan petani dengan industri agar peluang ekspor ini bisa memberi manfaat lebih luas,” katanya.

Selain pasar yang terbuka, pengembangan komoditas ekspor juga dinilai dapat menjadi alternatif diversifikasi pertanian.

Itu menyusul tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas konvensional.

"Pemerintah terus berupaya agar hasil pertanian di sini juga baik. Terlebih bisa berpeluang ekspor," tambah Agus.

Direktur Utama PT Kelola Agro Makmur, Gema Ramadan, mengatakan, permintaan ekspor frozen vegetables masih sangat tinggi.

Produk mereka saat ini telah dipasarkan ke Jepang, Amerika Serikat, dan India, dengan peluang pasar baru yang terus terbuka.

Namun, keterbatasan pasokan bahan baku masih menjadi tantangan utama. Dari kapasitas produksi 50 ton, perusahaan baru mampu memproduksi sekitar 25 ton per hari.

“Ke depan sangat mungkin naik sampai 100 ton per hari, asalkan bahan baku dan infrastruktur terpenuhi. Karena itu kemitraan dengan petani menjadi kunci,” ujarnya.

Gema menambahkan, peningkatan produksi tak hanya berdampak pada nilai ekspor. Itu juga membuka peluang penyerapan tenaga kerja lebih besar.

Sementara, petani mitra PT KAM, Ahmad Sudadi, mengaku sistem kemitraan edamame memberi keuntungan karena harga dan penyerapan panen lebih pasti.

Di lahan seluas 0,5 hektare, ia mampu menghasilkan sekitar 4 ton edamame dengan harga Rp7.500 per kilogram.

Menurutnya, dibanding padi, edamame cukup menjanjikan. Terutama untuk lahan tadah hujan seperti yang banyak ditemui di Temanggung.

"Lumayan menjanjikan. Apalagi sudah ada sistem kemitraan," akunya. (dev/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#potensi pertanian #ekspor edamame #sayur beku #Bupati Temanggung Agus Setyawan