RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Musim tanam tembakau mulai bergulir di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jumat (24/4/2026).
Seperti di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu. Para petani melakukan tanam perdana tembakau varietas kemloko.
Penanaman diikuti ritual khusus. Usai bibit tembakau ditanam, diberi sesajen. Sebagai ikhtiar agar kualitas tembakau yang dihasilkan semakin baik.
Salah satu petani tembakau, Yamuhadi, mengatakan, tahun ini sebagian lahan petani tembakau di wilayahnya masuk dalam skema kemitraan dengan PT Djarum.
Sekaligus percontohan bagi petani lain. Terutama untuk penerapan budidaya sesuai standar industri.
Kemitraan ini tidak hanya soal penyerapan hasil panen. Tetapi juga menjadi sarana edukasi agar petani menerapkan budidaya tembakau yang lebih baik.
Mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, penggunaan varietas lokal unggulan Kemloko, hingga penanganan pascapanen.
“Ini menjadi pemancing agar petani nonmitra juga bisa menanam sesuai standar yang diterapkan. Harapannya produktivitas dan kualitas tembakau Temanggung meningkat,” katanya.
Yamuhadi menyebut, salah satu penekanan dari pola kemitraan adalah menjaga kualitas tembakau saat pascapanen.
Termasuk menghindari praktik penambahan gula atau bahan kimia lain yang selama ini masih dilakukan sebagian oknum petani.
“Dengan kemitraan ini petani diberi edukasi agar kualitas tembakau Temanggung tetap terjaga. Itu yang paling penting,” ujarnya.
Dikatakan, di Desa Wonosari-Kecamatan Bulu, luas lahan yang masuk kemitraan tahun ini 10 hingga 15 hektare.
Meski belum ada kontrak harga khusus, Yamuhadi menilai pola kemitraan memberi peluang petani menghasilkan grade tembakau lebih tinggi yang berdampak pada harga jual.
Tahun lalu, harga tembakau grade tertinggi di wilayah tersebut sempat mencapai Rp85 ribu per kilogram untuk grade E.
Sedangkan rata-rata grade C hingga D berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
"Semoga ya harga jualnya meningkat. Petani juga berusaha agar tembakau ini sesuai keinginan grader," tambah Yamuhadi.
Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan mengatakan, musim tanam tembakau tahun ini cukup baik. Lantaran cuaca yang dinilai bersahabat bagi petani tembakau.
Agus menyebut, sebagian besar kawasan Gunung Sumbing barat hingga arah Gunung Prau mulai memasuki musim tanam karena ketersediaan air masih mencukupi.
Namun, ia tetap mewaspadai kemungkinan kekurangan air bagi petani yang baru menanam pada Mei mendatang.
“Kalau kemarau panjang harapannya sudah masa pertumbuhan. Kami berharap curah hujan tidak terlalu tinggi. Saat pengeringan nanti justru kita butuh kemarau yang bagus sampai panen selesai,” katanya.
Pemkab, kata Agus, menargetkan luasan tanam tembakau tahun ini mencapai sekitar 13 ribu hektare. Namun dinamika iklim global masih menjadi perhatian. Lantaran berpotensi memengaruhi musim tanam dan hasil panen.
Selain faktor cuaca, petani juga dihadapkan pada naiknya biaya produksi. Agus menyoroti kenaikan harga mulsa plastik yang cukup tajam dan menjadi beban tambahan bagi petani hortikultura maupun tembakau.
“Harga mulsa kualitas baik yang sebelumnya sekitar Rp650 ribu sampai Rp670 ribu sekarang bisa tembus Rp1,25 juta. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Kendati begitu, optimistis petani tetap tinggi. Dengan dukungan cuaca yang diharapkan bersahabat, pola kemitraan, dan penguatan kualitas budidaya, musim tanam tembakau tahun ini diharapkan mampu memberi hasil lebih baik bagi petani lereng Sumbing.
"Paling tidak hasil tahun ini bisa lebih baik dari tahun kemarin," tambah Agus. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo