Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Bekali Kemandirian, Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Temanggung Dilatih Pemulasaraan Jenazah

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 9 Maret 2026 | 16:17 WIB

Penerima manfaat PPSDSN Penganthi Temanggung belajar pemulasaran jenazah, Senin (9/3/2026).
Penerima manfaat PPSDSN Penganthi Temanggung belajar pemulasaran jenazah, Senin (9/3/2026).

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Penyandang disabilitas sensorik netra di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra (PPSDSN) Penganthi Temanggung mendapatkan pelatihan pemulasaraan jenazah. Hal ini sebagai bekal kemandirian ketika kembali ke masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, para penerima manfaat diajarkan berbagai tahapan pengurusan jenazah sesuai syariat Islam. Mulai dari memandikan, menyucikan, mengafani hingga menyalatkan jenazah.

Pembimbing agama PPSDSN Penganthi Temanggung, Eko Yuwono, mengatakan, pembelajaran ini penting untuk penyandang tunanetra. Agar mereka memiliki kemampuan yang sama dengan masyarakat umumn dalam hal pengurusan jenazah.

“Di masyarakat biasanya disabilitas netra hanya ikut salat jenazah. Maka di sini kami memberikan pembelajaran mulai dari memandikan hingga mengafani jenazah,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Eko menyebut, pembekalan ini bisa dipraktikan penerima manfaat jika sudah kembali ke keluarga dan masyarakat.

Dengan keterampilan tersebut, diharapkan bisa ikut membantu ketika ada anggota keluarga atau kerabat yang meninggal dunia.

Selain itu, para peserta juga dikenalkan dengan proses menalkinkan. Yakni membimbing seseorang yang sedang sakaratul maut dengan kalimat la ilaha illallah, sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam.

“Setelah seseorang meninggal, kemudian jenazah dimandikan, dikafani, dan disalatkan. Di sini praktiknya sampai tahap salat jenazah,” jelas Eko.

Salah satu penerima manfaat, Imam, 19, asal Banjarnegara, mengaku, pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi dirinya.

Ia mengikuti praktik pemulasaraan jenazah yang dilakukan secara langsung dengan pendampingan.

“Tadi praktik mulai dari memandikan, menyucikan sampai mengafani,” katanya.

Bagi penyandang tunanetra, lanjut Imam, proses belajar membutuhkan cara yang berbeda karena tidak dapat melihat secara langsung. Makanya, metode yang digunakan lebih banyak melalui sentuhan dan praktik langsung.

“Karena kami tidak bisa melihat, jadi diajari dengan cara menyentuh dan dipandu. Tapi insyaallah tadi bisa,” ujarnya.

Imam berharap, ilmu yang didapatkan selama pelatihan dapat diterapkan ketika kembali ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Setelah mendapatkan ilmu ini semoga bisa diterapkan nanti kalau ada keluarga atau kerabat yang meninggal dunia. Walaupun kami disabilitas, tetap bisa melakukan seperti orang normal,” imbuhnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Penganthi Temanggung #bekal #pemulasaraan jenazah #Disabilitas Netra #PPSDSN