RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Ramadan tak hanya menjadi momen peningkatan ibadah, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif di Kabupaten Temanggung. Salah satu sektor yang merasakan dampak positif adalah perajin kaligrafi timbul. Saat ini permintaannya melonjak hingga 40 persen menjelang Idulfitri.
Di Jalan Pahlawan, Dusun Jubug, Desa Wanutengah, Kecamatan Parakan, galeri milik Eko Budi, 45, tampak lebih sibuk dari biasanya. Pesanan kaligrafiri datang silih berganti. Tidak hanya dari warga Temanggung, tetapi juga dari Wonosobo, Magelang, Semarang, hingga Jogjakarta.
“Kalau bulan Ramadan menjelang Idulfitri pasti ada peningkatan. Alhamdulillah tahun ini ada kenaikan sekitar 40 persen dibanding hari biasa. Mudah-mudahan sampai akhir Ramadan lebih bagus dari tahun lalu,” ujar Eko, Rabu (4/3).
Menurutnya, lonjakan permintaan bukan semata karena kebutuhan dekorasi. Tetapi juga tradisi masyarakat yang ingin menghadirkan suasana religius di rumah maupun tempat ibadah saat Lebaran.
Dari berbagai pilihan yang tersedia, lanjut Eko Budi, lafaz Ayat Kursi menjadi produk paling diminati. Selain itu, Surah Yasin dan Asmaulhusna juga banyak dipesan. Namun Ayat Kursi tetap menjadi favorit karena lebih familiar di kalangan masyarakat.
Harga kaligrafi yang ditawarkan cukup variatif. Mulai dari Rp85 ribuuntuk ukuran 60x40 sentimeter hingga Rp 1,9 juta untuk ukuran terbesar 1,5x1 meter. Meski tersedia berbagai ukuran, produk dengan harga Rp150.000 hingga Rp200.000 menjadi yang paling banyak diburu.
“Menjelang Lebaran ini permintaan lumayan ramai. Bisa sampai 10 kotak kaligrafi terjual,” katanya.
Lokasi galeri yang berada di jalur lintas antardaerah turut mendukung penjualan. Banyak pembeli dari luar kota yang singgah atau memang sengaja datang karena sudah mengetahui kualitas produk yang ditawarkan.
Dalam proses pembuatannya, Eko menggunakan teknik lem bakar dan cutting. Pengerjaan diawali dengan membuat mal desain. Kemudian, tulisan ayat ditebalkan menggunakan lem bakar agar menghasilkan efek timbul.
Setelah kering, kaligrafi diberi warna sesuai pesanan menggunakan bahan prada foil seperti emas atau perak. Tahap akhir meliputi pembersihan detail dan pemasangan bingkai agar siap dipajang.
"Untuk desain sederhana, proses pengerjaan dapat diselesaikan sekitar satu jam. Namun untuk desain dengan detail rumit seperti Surah Yasin, waktu pengerjaan tentu lebih lama karena membutuhkan ketelitian ekstra," tambah Eko Budi.
Bagi Eko, Ramadan selalu menjadi momentum penting untuk meningkatkan omzet. Itu sekaligus memperluas jangkauan pasar. Ia optimistis minat masyarakat terhadap seni kaligrafi akan terus tumbuh. Terutama pada momen keagamaan.
“Biasanya tren ini terus naik sampai menjelang Lebaran. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun lalu,” harapnya.
Dengan meningkatnya permintaan lintas daerah, kerajinan kaligrafi timbul asal Temanggung tidak hanya menjadi bagian dari tradisi mempercantik rumah saat Lebaran.
Tetapi juga bukti, sektor ekonomi kreatif lokal mampu berkembang dan bersaing di pasar regional.
Mayoritas pembeli menggunakan kaligrafi sebagai hiasan dinding rumah. Seperti diakui Muhtadi, salah satu pembeli. Ia mengaku membeli kaligrafi Ayat 1.000 Dinar berukuran 140x200 sentimeter untuk mempercantik rumahnya menjelang Lebaran.
“Ini untuk persiapan hiasan rumah karena sudah mendekati Lebaran. Saya pilih di sini karena pilihannya banyak, kualitasnya bagus, dan harganya terjangkau,” ujarnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo