RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Program rumah singgah yang digagas Bupati Temanggung Agus Setyawan, pada Juni 2025, memberi banyak manfaat bagi warganya.
Fasilitas yang berada di Jalan Plemburan Nomor 22A Ngaglik, Sleman, Jogjakarta, dan Jalan Tengger I , Gajah Mungkur, Kota Semarang itu, kerap disebut sebagai rumah kedua bagi perantau sementara, asal Temanggung.
Tak jarang, ada yang menginap untuk sekadar menunggu keluarganya yang berobat di rumah sakit. Lalu, ada yang tinggal sementara lantaran sedang mencari pekerjaan.
Bahkan, ada yang merasakan langsung manfaat rumah singgah, lantaran kebingungan mencari tempat tinggal.
Dwi Rusiana, warga Bandunggede, Kedu membagikan pengalamannya saat menginap di rumah singgah di Kota Semarang. Ketika itu, Dwi mengantarkan ibunya berobat ke RSUP Dr Kariadi.
Namun, proses pengobatan tidak bisa selesai dalam satu hari. Ia harus antre dengan pasien lain yang datang dari berbagai daerah. Akhirnya, ia bersama keluarga lain yang ikut mengantar harus menginap di Semarang.
"Waktu itu tidak bawa cukup uang. Lalu dapat informasi ada rumah singgah, program pak bupati. Alhamdulillah bisa tinggal di sana," katanya Senin (23/2).
Dwi tidak bisa membayangkan kalau tidak ada rumah singgah milik Pemkab Temanggung di Kota Semarang. Bahkan ia sudah berpikir akan tidur di emperan tempat parkir kendaraan.
“Kalau tidak ada rumah singgah, mungkin tidur di emper parkiran. Ditawari rumah kos sama tukang parkir rumah sakit, tapi kan harus bayar apalagi keluarga yang ikut banyak,” ungkapnya.
Menurutnya, rumah singgah dari Bupati Temanggung Agus Setyawan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ditambah sarana dan prasarana yang bagus.
“Senang sekali dan ini sangat membantu saya. Gratis, ada kamar dan kasur. Bahkan ada beras, mi dan telur. Jadi bisa masak di sini,” tambah Dwi Riana.
Hal sama dirasakan Alwi Johan, pemuda asal Kledung. Ketika itu, Alwi tengah menempuh perjalanan menuju Alor, NTT, untuk membangun rumah belajar. Ia sempat kebingungan mencari tempat bermalam saat di Jogjakarta.
"Aslinya sudah pesan hotel sih, tapi salah tanggal (saat check in). Akhirnya saya datang ke rumah singgah," ujarnya.
Pengalaman tinggal di rumah singgah dibagikan Alwi Johan melalui blog-nya. Pemuda 25 tahun ini, mengaku sempat khawatir tidak bisa masuk ke rumah singgah. Karena datang pada malam hari.
“Saya datang malam hari, sempat khawatir tidak bisa masuk. Tapi akhirnya ada yang membuka pintu. Rasanya lega sekali. Tempatnya sederhana, tapi sangat membantu,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Temanggung Umi Lestari Nurjanah mengatakan, ketersediaan kamar rumah singgah di Jogjakarta ada 4. Sementara di Semarang terdapat 7 kamar.
Sejak diresmikan pada Juni 2025, program rumah singgah membantu masyarakat Temanggung. Hingga Desember 2025, terdapat 122 warga yang menginap di rumah singgah di Jogjakarta. Sementara di Semarang, ada 147 warga yang memanfaatkannya.
"Jadi lama warga yang tinggal di rumah singgah itu bervariasi. Tapi rata-rata hanya sampai 3 hari," katanya.
Umi menambahkan, warga yang menginap di rumah singgah kebanyakan memiliki urusan ke rumah sakit. Selain itu, terdapat pencari kerja yang memanfaatkan fasilitas tersebut.
"Selain fasilitas penginapan, ada bantuan makanan berupa sembako yang bisa dimasak di rumah singgah," tambahnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo