Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Nyadran Kampus Hijau, Ruang Edukasi Tradisi Islam Kultural bagi Mahasiswa

Devi Khofifatur Rizqi • Jumat, 30 Januari 2026 | 18:38 WIB
Nyadran Kampus Hijau di INISNU Temanggung, Jumat (30/1) menyemarakkan Harlah NU 100 tahun Masehi.
Nyadran Kampus Hijau di INISNU Temanggung, Jumat (30/1) menyemarakkan Harlah NU 100 tahun Masehi.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menghadirkan Nyadran Kampus Hijau di halaman kampus, Jumat (30/1/2026).

Acara tersebut sebagai ruang edukasi bagi mahasiswa untuk mengenal dan menghidupi tradisi Islam kultural yang telah mengakar di masyarakat.

Acara ini melibatkan berbagai lembaga pendidikan dalam satu kawasan. Mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Rangkaian acara meliputi doa bersama, istighosah, tahlilan, launching Qris Masjid Al Ittihad, khotmil Quran, hingga haul massal bagi arwah civitas akademika dan para pendiri NU.

Rektor INISNU Temanggung, Dr Hamidulloh Ibda, menyebut kegiatan ini bukan sekadar tradisi seremonial.

Melainkan praktik nyata pembelajaran keislaman, yang hidup di tengah masyarakat atau dikenal sebagai konsep living Quran. Acara ini sekaligus memeringati Harlah NU ke-100 tahun Masehi.

“Nilai-nilai Alquran itu tidak berhenti di teks. Ia dihayati, direfleksikan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sosial. Nyadran ini menjadi salah satu bentuknya,” ujar Hamidulloh.

Lanjut dia, nyadran yang umumnya dilaksanakan di makam atau lingkungan warga, sengaja dihadirkan ke lingkungan kampus. Agar mahasiswa tidak tercerabut dari tradisi keagamaan yang hidup di masyarakat.

“Banyak mahasiswa yang secara akademik paham agama, tetapi kurang bersentuhan dengan tradisi. Kampus perlu menjadi ruang temu antara ilmu, budaya, dan praktik keagamaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, tradisi mendoakan para pendahulu merupakan bagian dari sunah Nabi. Bentuk bakti kepada orang tua dan para ulama yang telah wafat.

Karena itu, pelestarian tradisi nyadran dinilai penting, terutama di tengah maraknya narasi yang kerap mempersoalkan praktik keagamaan kultural.

Selain aspek spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan nilai sosial dan solidaritas.

INISNU Temanggung memanfaatkan momentum Nyadran Kampus Hijau untuk meluncurkan layanan sedekah digital.

Hal tersebut sebagai adaptasi terhadap kebiasaan generasi muda yang mulai beralih ke transaksi nontunai.

“Sedekah itu nilai lama, tetapi caranya bisa menyesuaikan zaman. Kampus memfasilitasi agar mahasiswa tetap bisa bersedekah meski tanpa uang tunai,” katanya.

Hamidulloh berharap Nyadran Kampus Hijau dapat menjadi tradisi akademik yang berkelanjutan. Yakni sekaligus media syiar Islam yang moderat dan membumi.

“Kampus tidak boleh hanya fokus pada akademik. Tapi juga harus berperan merawat nilai-nilai keagamaan dan budaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” tandasnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Rektor INISNU Temanggung Dr Hamidulloh Ibda #Harlah NU Ke 100 Tahun Masehi #Nyadran Kampus Hijau #tradisi islam kultural