RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Berbekal ransel, tekad, dan idealisme, Alwi Johan Yogatama, pemuda Temanggung, memilih menempuh perjalanan sekitar 2.337 kilometer dengan cara nebeng dari Temanggung, Jawa Tengah hingga Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Perjalanan selama hampir empat bulan itu, ia jalani bukan sekadar untuk bertualang. Melainkan membawa misi sosial, untuk memperkuat rumah belajar dan gerakan literasi di wilayah pelosok.
Alwi mengaku, keputusan tersebut lahir dari kegelisahan pribadi setelah setahun bekerja di Jakarta.
Ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang menuntut rutinitas kaku dan ruang kerja tertutup.
Pencariannya terhadap makna hidup, membawanya pada perjalanan panjang lintas daerah dan lintas komunitas.
“Saya merasa hidup saya akan lebih bermakna kalau bisa bermanfaat bagi sekitar. Saya suka buku, maka saya memilih membantu rumah belajar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Inspirasi perjalanan itu salah satunya datang dari buku Into The Wild karya Jon Krakauer, buku nonfiksi yang menceritakan kisah Christopher McCandless yang memikat sekaligus tragis.
Menurut pemuda 25 tahun ini, buku tersebut mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan yang dinikmati sendiri, melainkan yang dibagikan.
Prinsip itulah yang kemudian ia terapkan dengan terjun langsung ke daerah, yang memiliki tantangan besar di bidang pendidikan.
Alor dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan berbagai data, tingkat literasi dan numerasi di NTT masih termasuk terendah di Indonesia.
Sementara angka putus sekolah di sana tergolong tinggi. Namun Alwi menegaskan, kehadirannya bukan untuk membangun dari nol.
“Di sana sudah ada rumah belajar yang diinisiasi warga dan berjalan sekitar empat tahun. Saya hanya menambahkan dukungan, ibarat cherry on top,” katanya yang juga konten kreator ini.
Rumah belajar yang berada di wilayah Welai Barat, sekitar 15–20 kilometer dari pusat Kota Kalabahi, kini semakin ramai dikunjungi anak-anak.
Alwi membantu penyediaan buku bacaan berkualitas, mendampingi aktivitas belajar, serta menguatkan jejaring komunitas literasi setempat.
Selama perjalanan, pemuda yang akrab disapa Alwijo ini, tinggal berpindah-pindah di komunitas, tanpa sekali pun menginap di hotel.
Ia tinggal di rumah belajar, rumah warga, hingga komunitas literasi di Flores, Lombok, dan Bali.
Dari perjalanan itu, ia mengaku belajar banyak hal, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, hingga kuatnya nilai adat di Indonesia Timur.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya, yakni melihat anak-anak di pelosok Flores dan Alor harus menempuh jarak hingga lima kilometer untuk bersekolah.
Bahkan, sebagian dari mereka membawa parang ke sekolah karena harus melewati hutan dan sekaligus mencari kayu bakar sepulang sekolah.
“Itu membuka mata saya tentang ketimpangan. Temanggung yang kita anggap pelosok, ternyata sudah sangat maju dibandingkan wilayah-wilayah itu,” ungkap pegiat literasi ini.
Alwi menyebut, seluruh perjalanan dan kegiatan tersebut dibiayai dari tabungan pribadi yang ia kumpulkan selama setahun bekerja.
Ia juga mengalokasikan sekitar Rp25 juta untuk pengadaan buku yang dikurasi secara mandiri dan dikirim melalui jalur ekspedisi laut, yang membutuhkan waktu hingga satu bulan.
Menariknya, di akhir perjalanan, Alwi justru mendapat undangan dari Perpustakaan Nasional untuk menjadi juri lomba video literasi.
Honor yang diterimanya disebut hampir setara dengan biaya hidupnya selama tiga bulan perjalanan. “Seperti dikembalikan lagi sama Gusti Allah,” katanya sambil tersenyum.
Ke depan, Alwi berharap program rumah belajar di Alor bisa berjalan berkelanjutan dengan sistem regenerasi.
Namun, ia menegaskan, ukuran keberhasilan terbesarnya justru ketika nilai dan pengalaman yang ia dapatkan bisa diterapkan di kampung halamannya, Temanggung.
“Saya lahir dan besar di sini (Temanggung). Kalau saya belajar jauh-jauh tapi tidak kembali memberi manfaat ke kampung sendiri, itu belum berhasil,” tegasnya.
Kepada anak muda, Alwi berpesan agar tidak terburu-buru mengambil keputusan besar karena kebingungan hidup.
Menurutnya, setiap orang memiliki misi hidup yang berbeda dan sama-sama mulia, apa pun profesinya.
“Tidak ada hidup yang lebih keren atau lebih hina. Yang penting, kita menemukan makna dan menjalani hidup dengan sadar,” tandasnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo