Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Merasa Dicurangi Panpel, Badran FC Temanggung Protes Keras

Devi Khofifatur Rizqi • Minggu, 11 Januari 2026 | 21:28 WIB
Tangkapan layar protes keras dari Badran FC Temanggung di Lapangan Gelora Bahagia Krida Kurung, Kecamatan Ceper, Jumat (9/1/2026).
Tangkapan layar protes keras dari Badran FC Temanggung di Lapangan Gelora Bahagia Krida Kurung, Kecamatan Ceper, Jumat (9/1/2026).

RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Kompetisi Liga Desa 2025/2026 wilayah Jawa Tengah mendadak viral dan menuai sorotan tajam.

Itu setelah Badran FC Temanggung melayangkan protes keras atas dugaan kecurangan dan inkonsistensi panitia penyelenggara (panpel).

Insiden panas itu terjadi saat Badran FC menghadapi Desa Serenan Juwiring, Klaten di Lapangan Gelora Bahagia Krida Kurung, Kecamatan Ceper, Jumat (9/1/2026).

Laga penentuan grup B tersebut berubah ricuh usai salah satu pemain Badran FC, Muhammad Rizal, diganjar kartu merah meski dinilai tidak melakukan pelanggaran di lapangan.

Kapten Badran FC, Bahrul Huda Bagus Satrio menyebut, kartu merah itu bukan karena pelanggaran teknis, melainkan buntut dari protes tim tuan rumah Klaten yang menuding Rizal sebagai mantan pemain profesional—yang menurut regulasi Liga Desa memang dilarang tampil.

Namun, Bahrul menegaskan pihaknya justru mendapat lampu hijau dari panitia, sebelum pemain tersebut diturunkan.

“Sejak awal kami tahu regulasinya. Rizal tidak kami masukkan starter karena statusnya. Tapi panpel dari Kemendes datang ke bench kami dan menyampaikan bahwa Rizal boleh dimainkan,” kata Bahrul saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1/2026).

Karena menjunjung sportivitas, Rizal baru dimasukkan sebagai pemain pengganti pada menit ke-10.

Bahkan sebelum diturunkan, Badran FC kembali meminta kepastian kepada panpel.

“Kami tanya lagi, dan dijawab boleh. Katanya sudah disepakati dengan tim lawan dan panpel. Bahkan dijamin tidak akan ada masalah,” ujarnya.

Namun ironi terjadi. Baru sembilan menit bermain, pada menit ke-19, Rizal justru diganjar kartu merah oleh wasit dengan alasan melanggar regulasi.

“Ini yang membuat kami merasa dicurangi. Panpel sendiri yang memperbolehkan, tapi setelah dimainkan malah dikeluarkan. Aturan seperti berubah-ubah, seolah takut pada tekanan tuan rumah,” tegas Bahrul.

Tak berhenti di situ, Badran FC juga memprotes durasi pertandingan yang dinilai tidak sesuai regulasi.

Laga yang seharusnya berlangsung 2 x 35 menit justru hanya dimainkan 2 x 20 menit.

“Kami sedang tertinggal satu gol dan butuh waktu untuk mengejar atau membalikkan keadaan. Tapi waktunya dipangkas. Ini jelas sangat merugikan kami,” katanya.

Padahal, di fase sebelumnya grup B Liga Desa Jateng, Badran FC tampil meyakinkan.

Mereka mengalahkan perwakilan Wonogiri 3-0, lalu menyingkirkan wakil Boyolali lewat adu penalti 2-1 tanpa kendala berarti.

“Kami sudah main lima kali di penyisihan dan tidak pernah ada masalah. Baru di laga ini terjadi hal seperti ini. Kami berharap ke depan Liga Desa lebih profesional dan panpel lebih siap,” tegas Bahrul.

Kasus ini kini ramai diperbincangkan di kalangan pecinta sepak bola akar rumput. Publik menilai insiden ini mencederai semangat sportivitas yang seharusnya menjadi ruh utama Liga Desa.

Terlebih, Liga Desa diselenggarakan oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDT) RI. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Liga Desa 2025 2026 #panpel #Badran fc temanggung #protes keras