Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Nyadran Lepen, Komitmen Warga Lamuk Gunung Legoksari Temanggung Lestarikan Sumber Air

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 5 Januari 2026 | 20:54 WIB
Upacara di Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung, sebagai wujud syukur atas limpahan air.
Upacara di Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung, sebagai wujud syukur atas limpahan air.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Warga Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, kembali menggelar upacara adat Nyadran Lepen Lamuk Gunung.

Upara ini sebagai wujud rasa syukur atas limpahan air yang hingga kini tetap mencukupi kebutuhan masyarakat setempat.

Tradisi turun-temurun ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian sumber air dan lingkungan di lereng Gunung Sumbing.

Ketua Upacara Adat Lamuk Gunung, Tri Supono menjelaskan, upacara tersebut merupakan ungkapan terima kasih masyarakat kepada alam atas keberkahan sumber air yang tidak pernah surut meski jumlah penduduk terus bertambah.

“Dulu di Dusun Lamuk Gunung hanya sekitar 50 rumah, sekarang sudah menjadi 160 rumah, tetapi air tetap mencukupi. Ini yang kami syukuri dengan menggelar upacara adat dan kirab sesaji,” ujar Tri Supono, Senin (5/1/2025).

Sumber air utama yang dimanfaatkan warga berasal dari Tuk Pontong dan Tuk Kali Cilik.

Kedua mata air tersebut menjadi penopang utama kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah paling atas lereng Gunung Sumbing tersebut.

Seluruh warga dilibatkan dalam rangkaian kegiatan adat, sebagai simbol kebersamaan sekaligus ajakan untuk menjaga sumber air yang menopang kehidupan dusun.

Tradisi ini juga menjadi momentum bagi perantau asal Lamuk Gunung untuk pulang kampung dan turut serta dalam upacara.

Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan mengapresiasi upaya masyarakat dalam melestarikan tradisi dan menjaga alam melalui upacara adat tersebut.

Menurutnya, Temanggung kaya akan budaya dan kesenian yang tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat.

“Yang pertama adalah iktikad baik dari seluruh masyarakat. Ini bentuk hormat kepada leluhur sekaligus rasa syukur.

Tradisi seperti nyadran lepen ini adalah ikhtiar merawat alam dan merawat manusia, karena keduanya saling berkaitan,” ujar Agus.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Temanggung berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat, khususnya dalam pelestarian budaya dan lingkungan.

Melalui tradisi seperti ini, masyarakat diingatkan untuk menjaga mata air, merawat pepohonan di sekitarnya, serta melindungi lingkungan guna mencegah bencana di masa mendatang.

“Bukan hanya soal kemanfaatan air, tetapi bagaimana menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana,” tandasnya. (dev/lis) 

Editor : Lis Retno Wibowo
#sumber air #air melimpah #Bupati Temanggung Agus Setyawan #wujud syukur #Nyadran lepen lamuk gunung #Desa Legoksari #Tlogomulyo