Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Temanggung Siap Menjadi Rumah Baru Perfilman Lokal Berbasis Budaya

Devi Khofifatur Rizqi • Rabu, 24 Desember 2025 | 03:05 WIB
Diskusi budaya dan sinematografi bersama Bupati Temanggung dan sutradara film R Jiwo Kusumo, Senin (22/12/2025) malam di Omah Sengon Kafe, Kandangan.
Diskusi budaya dan sinematografi bersama Bupati Temanggung dan sutradara film R Jiwo Kusumo, Senin (22/12/2025) malam di Omah Sengon Kafe, Kandangan.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Diskusi budaya dan sinematografi bertajuk Membangun Narasi dari Temanggung untuk Dunia, yang digelar di Omah Sengon Cafe, Kandangan, tidak sekadar menjadi ruang berbagi gagasan.

Kegiatan tersebut menunjukkan kesiapan Temanggung untuk naik kelas sebagai rumah baru perfilman berbasis budaya dan sejarah lokal.

Acara berlangsung hangat menghadirkan sutradara R Jiwo Kusumo, produser sekaligus aktris Dhita Samantha, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dimoderatori Direktur Utama Temanggung TV, Rizal Ivan Chanaris. 

Dalam diskusi, Jiwo menekankan, film bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan peradaban.

Ia menyebut Temanggung memiliki modal budaya dan sejarah yang sangat kuat untuk diangkat ke layar lebar.

“Film adalah wajah peradaban. Temanggung pernah menjadi pusat penting Mataram Kuno, terbukti dengan banyaknya situs dan candi. Itu latar sejarah yang luar biasa,” ujarnya Senin (22/12/2025) malam.

Jiwo juga menyinggung film terbarunya berjudul Rajah yang akan dirilis pada 26 Februari 2026.

Film tersebut terinspirasi dari Serat Ronggowarsito Amenangi Jaman Edan, lahir dari keprihatinan terhadap generasi muda yang mulai tercerabut dari akar budayanya.

“Kita jangan mau terus dieksploitasi, tapi sudah saatnya mengeksplorasi dan menjadi tuan rumah di wilayah sendiri.

Jika Temanggung menggelar festival film dan diikuti ratusan sineas dari berbagai daerah, gaung Temanggung akan menyebar dengan sendirinya,” kata Jiwo.

Sementara itu, Dhita Samantha menyoroti pentingnya keberanian generasi muda Temanggung untuk keluar dari zona nyaman.

Ia mengajak generasi muda mengeksplorasi potensi yang ada di sekitarnya. Menurutnya, sinematografi tidak selalu identik dengan biaya besar.

“Sinematografi tidak harus high cost. Dengan kamera ponsel pun bisa, yang penting punya visi dan misi kuat. Dari hal sederhana itu, potensi Temanggung bisa terangkat,” ujarnya.

Dhita mencontohkan kekayaan lokal seperti seni tradisi, kearifan lokal, situs sejarah, UMKM, hingga kuliner khas Temanggung. 

“Nama makanan seperti ndas borok saja, kalau dikemas dengan narasi yang tepat, bisa menjadi karya yang kuat dan berkarakter,” tambahnya.

Dukungan nyata juga datang dari Bupati Temanggung Agus Setyawan. Ia menyatakan komitmennya untuk membersamai para pelaku seni dan perfilman. Agus menilai, diskusi ini sebagai titik awal kebangkitan perfilman Temanggung.

“Temanggung punya sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya, dan kearifan lokal yang luar biasa. Sudah saatnya kita tidak hanya jadi objek, tapi menjadi tuan rumah pembuatan film,” tegas Agus.

Agus membuka peluang kolaborasi ke depan. Termasuk gagasan penyelenggaraan festival film sebagai wadah promosi daerah. 

"Saya siap mendukung. Bismillah, mari kita buat Temanggung lebih dikenal lewat film,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan pemerhati sejarah dan arsitektur Temanggung, Kris Dharmawan.

Ia menilai kekuatan utama Temanggung justru terletak pada sejarahnya yang kaya dan berlapis.

“Dari era Mataram Kuno, Situs Liyangan, Wanua Tengah, hingga Parakan sebagai kota tua dengan akulturasi Jawa, Tionghoa, dan Belanda, semuanya sangat sinematik. Bahkan ada kisah Lau Djing Tie, tokoh pembawa kung fu ke Nusantara,” ungkapnya.

Menurut Kris, jika digarap serius, narasi sejarah Temanggung berpotensi diangkat ke level nasional hingga internasional.

Diskusi sinematografi ini pun menjadi bukti bahwa Temanggung tidak kekurangan cerita, melainkan hanya menunggu untuk dituturkan dengan medium yang tepat.

"Lewat diskusi ini, Temanggung bisa membangun identitas daerah melalui film dan narasi budaya yang berakar kuat," tambah Kris. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Dhita Samantha #Bupati Temanggung Agus Setyawan #perfilman #R Jiwo Kusumo #film #diskusi budaya