RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Harapan untuk kembali ke tanah kelahiran semakin kuat dirasakan Seni, 47, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Dusun Letih, Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, Temanggung, yang menjadi korban penyiksaan majikan di Malaysia.
Setelah 23 tahun tidak bertemu, sang anak Riki Alvian akhirnya dapat memeluk ibunya secara langsung. Pertemuan haru itu terjadi di Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Serdang, Puchong, Selangor, Malaysia, pada Senin (8/12/2025).
Riki datang bersama sepupunya, Lilin Triyanah, didampingi istri Bupati Temanggung, Panca Dewi, melalui fasilitasi penuh dari KBRI Malaysia.
Bupati Temanggung Agus Setyawan, menjelaskan, kehadiran Riki memberikan kekuatan tersendiri bagi Seni untuk menghadapi proses hukum yang masih berlangsung.
“Ini upaya menumbuhkan semangat Bu Seni agar proses peradilan di Malaysia bisa cepat selesai. Harapannya, hak-hak Bu Seni selama 23 tahun dapat diterima sepenuhnya,” ujar Agus, Selasa (9/12/2025).
Ia menyampaikan terima kasih kepada KBRI Malaysia dan Kepolisian Diraja Malaysia yang telah membantu mempertemukan Riki dengan ibunya.
Meski demikian, kepulangan Seni ke Indonesia belum dapat dipastikan. Lantaran proses hukum terhadap majikan yang menyiksa masih berjalan.
Kendati begitu, Agus membeberkan, rasa rindu yang tertahan selama puluhan tahun membuat pertemuan ini menjadi titik balik bagi Seni.
Setelah melihat anaknya, Seni mengungkapkan keinginan kuat untuk segera kembali ke Tanah Air.
Mengenai kasus ini, Bupati Agus Setyawan berharap kejadian serupa tidak terulang pada warga Temanggung lainnya.
Bupati mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur janji manis pekerjaan di luar negeri tanpa memastikan legalitas perusahaan penyalur.
Ia melihat banyak masyarakat yang menjadi korban karena hanya mengejar pendapatan besar tanpa mengecek legalitas penyalur.
“Masyarakat harus berhati-hati. Pilih PJTKI yang betul-betul legal dan kredibel, supaya ada bimbingan yang jelas sebelum keberangkatan dan tempat kerja yang aman,” tegasnya.
Di sisi lain, Seni sendiri mengalami trauma berat. Panca Dewi menceritakan bahwa pada awal penyelidikan, polisi Malaysia kesulitan mengidentifikasi Seni karena ia sempat melupakan identitas dirinya sendiri.
Yang ia ingat hanya satu nama, Riki Alvian dari Temanggung. Informasi itu menjadi kunci bagi aparat untuk menelusuri keluarga Seni.
Dalam pertemuan itu, Seni langsung mengenali keponakannya, Lilin. Namun, ia tidak begitu mengenali wajah Riki yang ditinggalkan sejak masih balita. Bahkan, ia kini lebih fasih berbahasa Melayu dibanding bahasa Jawa.
Keduanya (Riki dan Seni) terlihat bercengkerama meski terbata-bata dalam komunikasi, namun suasana tetap hangat dan penuh haru. Riki mengaku momen ini menjadi pengalaman paling emosional dalam hidupnya.
“Sangat bahagia bisa ketemu ibu. Meski pangling dengan wajah saya, tapi alhamdulillah beliau sehat. Saya mau menangis, tapi kasihan ibu,” kata Riki.
Diberitakan sebelumnya, kisah pilu dialami Seni PMI asal Kabupaten Temanggung, yang dilaporkan hilang selama 21 tahun di Malaysia.
Setelah dua dekade tanpa kabar, Seni akhirnya ditemukan dalam kondisi hidup meski mengalami penyekapan dan tidak menerima gaji dari majikannya selama bertahun-tahun. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo