Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Bata Kingdom, dari Desa Kebumen Temanggung Menembus IKN : Berdayakan Warga Menjadi Produktif

Lis Retno Wibowo • Jumat, 28 November 2025 | 00:53 WIB
Pekerja sedang menata Bata Kingdom. Bata yang diproduksi di Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Temanggung ini telah menasional.
Pekerja sedang menata Bata Kingdom. Bata yang diproduksi di Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Temanggung ini telah menasional.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Di Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Temanggung, denting-denting alat cetak tanah liat terdengar nyaris setiap hari.

Suara itu ternyata menjadi awal dari cerita besar lahirnya produk bata tempel yang kini dipakai di mal-mal elite, proyek BUMN, hingga Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Produk itu bernama Bata Kingdom. Di balik perjalanan panjang tersebut, ada sosok sederhana bernama Nur Kholis. Ia bukan pencipta bata tempel, namun menjadi penyelamat warisan yang hampir mati.

“Saya cuma nerusin yang sudah ada. Tapi saya merasa ini harus dijaga, harus terus hidup,” ujar Nur Kholis saat berbincang di studio Jawa Pos TV Jateng di Magelang.

Tahun 2019 menjadi titik balik hidupnya. Ketika pulang dari Lombok, ia melihat tumpukan bata tempel di rumah yang tak kunjung diambil pembeli dari Jakarta. Enam bulan dibiarkan, bata itu berjamur dan tak bernilai.

Sang adik meminta bantuannya untuk menjualkan. Bermodalkan sampel dan ponsel, ia memotret produk dan memasarkannya secara online. Tanpa pengalaman di dunia material bangunan, ia terkejut melihat tingginya permintaan.

“Overload produksi itu bukan karena barangnya jelek, tapi pendistribusiannya mandek,” ujarnya.

Di tahun yang sama, Nur Kholis memberi nama baru pada produk itu, yakni Bata Kingdom. Tujuh tahun berlalu, kini Bata Kingdom merambah hampir seluruh Indonesia.

“Pasar terbesar justru Jabodetabek, hampir 80 persen ke sana. Bahkan saat Covid di 2020 itu kami tetap produksi dan ada pesanan," ungkapnya.

Produk Bata Kingdom tidak hanya bata tempel. Ada juga bata ekspose maupun bata merah dan lainnya. Yang membuatnya semakin bangga, sejumlah proyek besar memakai produk Bata Kingdom.

Seperti Summarecon Mall di Bandungc Islamic Center Malang, pembangunan Danau Toba, Bandara Mandailing Natal di Sumatera Utara, hingga proyek di IKN.

“Pas saya lihat sendiri bata karya kampung kami menempel di dinding mal sebesar Summarecon Bandung, rasanya merinding,” ungkap Nur Kholis haru.

Dari usaha yang awalnya hanya coba-coba, kini Bata Kingdom menghidupi 20 unit perajin dengan total lebih dari 200 pekerja. Yang menarik, sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan warga sepuh.

“Mereka itu tadinya enggak produktif. Tapi di sini mereka bisa dapat penghasilan. Itu yang bikin saya terus semangat meski umur sudah enggak muda,” kata Nur Kholis

Ia mengakui, bukan keuntungan pribadi yang membuatnya bertahan. Melainkan tanggung jawab moral. Terlebih, Bata Kingdom bukan sekadar industri tetapi gerakan hidup warga desa.

Bata Kingdom kini memiliki 16 varian produk, seluruhnya mengantongi tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Nur Kholis ketika hadir di acara Bincang-Bincang Jawa Pos TV Jateng di Magelang, Rabu (19/11/205).
Nur Kholis ketika hadir di acara Bincang-Bincang Jawa Pos TV Jateng di Magelang, Rabu (19/11/205).

Mereknya juga telah terdaftar di HAKI. Ayah dua anak itu membeberkan, tanah di Kabupaten Temanggung sangat cocok digunakan untuk membuat bata. Itu karena memiliki warna natural, teksturnya padat, dan kuat.

“Tanah Temanggung itu paling pas. Warnanya natural, padat, dan kuat. Itu enggak bisa direkayasa. Anugerah alam," bebernya.

Selain mengutamakan kualitas, Bata Kingdom juga mengandalkan kekuatan tim. Ada 60 mesin produksi dan komando satu merek. 

"Makanya kalau ada permintaan ribuan meter persegi, kami bisa penuhi. Kalau perajin sendiri-sendiri enggak akan bisa," ujarnya.

Meski kini usahanya menasional, Nur Kholis tetap rendah hati. Cita-citanya sederhana, menjaga Bata Kingdom agar tetap hidup hingga generasi berikutnya. 

“Ini bukan cuma soal bisnis. Saya ingin Bata Kingdom jadi ikon Desa Kebumen, kampung saya. Jadi sumber penghidupan banyak orang, sampai anak cucu mereka," katanya.

Selain itu, ia juga ingin bata tempel semakin dikenal masyarakat. Terlebih, banyak masyarakat yang belum tahu jika di Kabupaten Temanggung terdapat bata tempel yang berkualitas.

Bata Kingdom juga dijual di berbagai marketplace. Termasuk di Shopee, IG, TikTok, Tokopedia, Facebook, dan lainnya.

Bata Kingdom juga dipercaya mewakili Kabupaten Temanggung dalam ajang Innovative Government Award (IGA) selama dua tahun berturut -turut. Ini menjadi bukti, produk bata tempel tersebut memang bernilai dan kualitas tinggi.

"Kami senang karena dipercaya oleh pemerintah daerah mewakili IGA. Ini juga ikhtiar kami agar Bata Kingdom semakin dikenal luas,"imbuh pria berkacamata itu.

Kisah Bata Kingdom menjadi bukti bahwa inovasi tak harus lahir dari kota besar. Dari kampung terpencil, karya kecil bisa tumbuh menjadi kebanggaan nasional—asal ada semangat, ketulusan, dan keberanian untuk terus melangkah. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#nur kholis #pringsurat #tanah liat #mal #Desa Kebumen #bata kingdom #proyek ikn