RADARMAGELANG.ID, Temanggung— Pameran seni rupa Adu Roso yang digelar Catec (Cah Temanggung Creative) tidak hanya menjadi ajang pamer karya ratusan pelukis Jawa–Bali.
Event ini sekaligus menegaskan pentingnya regenerasi perupa daerah dan kebangkitan ekosistem seni di Temanggung.
Pameran berlangsung 18–23 November 2025 di Pendopo Pengayoman. Tahun ini, lebih dari 100 pelukis dari berbagai daerah terlibat.
Direktur Seni Catec, Witarso, menegaskan, tema Adu Roso bukan hanya refleksi tentang kepekaan perasaan. Tetapi juga kritik sekaligus ajakan kepada para pelukis muda untuk memahami etika dan esensi berkesenian.
“Pelukis muda perlu memahami manajemen pameran, bekerja sama dengan kolektor, dan mengelola karya mereka agar bisa masuk ke ruang-ruang seni yang lebih luas,” ujarnya Rabu (19/11/2025).
Hal itu juga sejalan dengan pesan simbolik pembukaan pameran oleh Kris Darmawan, pemilik Semarang Gallery.
Ia menorehkan tinta bertuliskan Catec pada kanvas sebagai simbol keberlanjutan seni rupa Temanggung.
Kris menilai pameran ini merupakan momentum berharga bagi pelukis daerah untuk naik kelas. Ia menyampaikan, potensi seni lukis Temanggung dapat berkembang jika didukung kolektor, pencari bakat, dan pemerintah.
“Institusi seni memang banyak di kota besar, tapi daerah seperti Temanggung punya energi kreatif yang kuat. Pameran seperti ini menjadi pintu pengenalan bagi karya-karya mereka,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan seni di sekolah agar kaderisasi tidak terputus.
"Adu Roso memberi pengingat bahwa keberlanjutan seni bergantung pada kemampuan kita menyiapkan generasi berikutnya," tambahnya.
Beragam karya yang dipamerkan menunjukkan luasnya cakupan gaya seni dari para perupa.
Dari naturalis, abstrak, hingga karya yang terinspirasi situs bersejarah seperti Borobudur. Pameran ini memperlihatkan bagaimana seniman mengolah nilai tradisional menjadi bentuk-bentuk artistik modern.
Kepala Dinbudpar Temanggung, Tri Raharjo, menambahkan, acara ini adalah bukti bahwa seni lukis di daerah tetap hidup dan berkembang.
“Adu Roso membuktikan Temanggung bukan sekadar penonton dalam dunia seni rupa, tetapi pelaku yang mulai mengambil ruangnya sendiri,” ungkapnya.
Dengan terus menguatnya komunitas seni dan hadirnya pameran berskala regional seperti ini, Temanggung perlahan membangun posisinya sebagai ruang kreatif yang diperhitungkan.
"Ini membangun jembatan kreativitas antar-generasi, memperluas koneksi antara pelukis dan kolektor, serta memperkuat ekosistem seni daerah agar tetap berkelanjutan," helas Tri Raharjo. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo