Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Penggantian Songsong Djojonegoro Prosesi Sakral, Simbol Pemersatu Warga Temanggung

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 10 November 2025 | 05:56 WIB
Bupati  Temanggung Agus Setyawan mengikuti prosesi penggantian Songsong Djojonegoro di makam bupati pertama di kompleks Masjid Darussalam, Minggu (9/11/2025) malam.
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengikuti prosesi penggantian Songsong Djojonegoro di makam bupati pertama di kompleks Masjid Darussalam, Minggu (9/11/2025) malam.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Momen penggantian songsong Djojonegoro menjadi salah satu agenda sakral dalam peringatan Hari Jadi ke-191 Kabupaten Temanggung tahun ini. 

Tradisi yang sarat makna sejarah tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan juga simbol kebesaran dan pemersatu bagi seluruh masyarakat Temanggung.

Bupati Temanggung Agus Setyawan, menegaskan, penggantian songsong bukan hanya ritual seremonial.

Tetapi wujud penghormatan terhadap sejarah panjang berdirinya Kabupaten Temanggung. 

Prosesi sakral ini berlangsung di samping Masjid Agung Darussalam, yang merupakan makam Bupati Temanggung pertama, Raden Tumenggung Ario Djojonegoro, Minggu malam (9/11/2025).

"Ini bukan sekadar seremoni. Tapi wujud penghormatan terhadap sejarah panjang berdirinya Kabupaten Temanggung," ujar Bupati Agus.

Mengenakan setelan putih, Bupati Temanggung dengan khidmat mengganti songsong Djojonegoro.

Ia menyebut, perjalanan Temanggung yang kini berkembang pesat berakar dari sejarah Kabupaten Menoreh dengan ibu kota di Parakan.

“Adanya Temanggung yang luar biasa ini tidak datang tiba-tiba. Semuanya dimulai dari Kabupaten Menoreh yang ibu kotanya di Parakan,” ujar Agus.

Tradisi penggantian songsong Djojonegoro telah menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Temanggung. 

Dalam upacara penggantiannya, songsong atau payung kebesaran itu dimaknai sebagai perlambang perlindungan, kemakmuran, dan keberlanjutan pemerintahan daerah.

Ini juga alat pemersatu seluruh elemen masyarakat, tanpa melihat strata sosial. 

Selain nilai historis, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat identitas kebudayaan lokal.

Juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sejarah daerah. 

“Temanggung tidak boleh melupakan sejarah, karena dari sanalah kekuatan dan jati diri kita berasal," tandas bupati.

Usai prosesi, dilanjutkan tahlil bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Untuk mendoakan para bupati Temanggung terdahulu yang pernah membangun kabupaten ini berjaya. (dev/lis) 

Editor : Lis Retno Wibowo
#Songsong Djojonegoro #Agus Setyawan #sakral #Bupati Pertama #masjid agung darussalam