RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Semangat literasi digaungkan Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Festival Literasi 2025.
Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas literasi, dan masyarakat untuk membangkitkan kembali minat baca di tengah tantangan era digital.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati mengatakan festival ini sebagai ajang untuk menyombongkan kemampuan literasi.
Menurutnya, masyarakat perlu berani menampilkan kreativitas dan kebiasaan membaca yang telah dibangun, bukan sekadar menyimpannya dalam lingkup kecil.
"Ini menjadi ruang bagi pegiat literasi, komunitas baca, dan masyarakat untuk menonjolkan kemampuan literasinya masing-masing. Sekaligus menjadi media kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mendorong gerakan literasi,” ujar Rahmah, Rabu (8/10/2025) di Temanggung.
Rahmah menambahkan, literasi merupakan bahan bakar utama peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Melalui kegiatan membaca dan belajar yang tekun, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Temanggung, Supriyanto, menyampaikan festival ini berlangsung selama lima hari, selama 8-12 Oktober di halaman Dinpusip Temanggung.
Kegiatan ini, melibatkan berbagai komunitas baca, taman bacaan masyarakat, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan desa. Terdapat pameran literasi dan stan dari sekolah dan komunitas.
Dikatakan, tingkat literasi masyarakat Temanggung masih tergolong sedang, di angka 60,48 persen. "Harapannya kegiatan seperti ini bisa meningkatkan minat baca dan kualitas literasi warga,” katanya.
Selain itu, Kabupaten Temanggung menjadi salah satu dari lima daerah di Jawa Tengah yang tahun ini mendapat bantuan fasilitas perpustakaan digital dari Perpustakaan Nasional.
Tiga di antaranya ditempatkan di Desa Kacepit, Mudal, dan Pendopo Pengayoman. "Dalam pembukaan ini juga dilakukan pengukuhan Bunda Literasi kepada ibu Panca Dewi," tambahnya.
Sementara Bupati Temanggung Agus Setyawan menegaskan, di tengah derasnya arus digitalisasi, gerakan membaca buku tetap penting sebagai penopang kualitas sumber daya manusia.
Festival Literasi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Temanggung masih gemar membaca dan membutuhkan buku.
"Kami akan terus mendukung, baik melalui program daerah maupun alokasi anggaran di tingkat desa,” ujarnya.
Agus berharap ke depan akan lahir semakin banyak generasi muda yang mencintai membaca dan menjadikan literasi sebagai dasar membangun kemandirian.
"Kalau sudah gemar membaca dan berpikir kritis, anak-anak kita akan tumbuh mandiri, tidak merepotkan orang lain, dan mampu mengambil keputusan yang bijak,” pungkasnya.
Festival Literasi Temanggung tidak hanya menjadi ajang pamer kemampuan literasi, tetapi juga momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan berdaya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo