RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Warga di empat dusun di Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, menggelar tradisi Saparan. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap Jumat Wage bulan Safar dalam kalender Jawa.
Tradisi yang diikuti warga Dusun Dukuh, Sentul, Kauman, dan Miri ini berlangsung khidmat di Makam Ki Ageng Pangeran Dono Rojo.
Ciri khas acara ini, setiap kepala keluarga membawa tenong, wadah berbentuk bundar dari anyaman bambu dengan tutup. Tenong berisi aneka makanan seperti ingkung ayam, nasi, sayur-mayur, kudapan, dan jajanan pasar.
Setelah doa dan tahlil bersama, makanan tersebut dibagikan dalam suasana kebersamaan.
Kepala Desa Ngropoh, Haryono, menjelaskan, tradisi ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada warga Desa Ngropoh, khususnya Dusun Kauman.
"Kedua, tradisi ini sebagai merti dusun atau peringatan hari jadi dusun, sekaligus membersihkan lingkungan dan makam leluhur,” ujarnya Jumat (15/8/2025).
Haryono menerangkan, tradisi ini turut menjadi momen untuk mendoakan para leluhur agar diampuni dosa-dosanya, serta memohon keberkahan bagi warga yang masih hidup.
"Semoga masyarakat Ngropoh senantiasa diberi keberkahan oleh Allah SWT,” terangnya.
Tradisi membawa tenong dalam acara ini dulu dikenal sebagai kembul bujono, atau makan bersama. Seiring perkembangan zaman, maknanya berubah menjadi bentuk sedekah.
Haryono menuturkan, dahulu banyak warga yang datang dari berbagai daerah untuk meminta makanan. Lalu warga desa setempat memberikannya sebagai bentuk berbagi rezeki.
“Sekarang, masih banyak yang datang dari luar daerah seperti Jogja, Magelang, hingga Jepara. Mereka punya tujuan masing-masing, ada yang mencari berkah, ada yang sekadar ikut meramaikan,” jelasnya.
Tradisi Saparan di Desa Ngropoh menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya sekaligus wujud rasa syukur dan kebersamaan masyarakat, yang hingga kini tetap terjaga lintas generasi.
Diharapkan, tradisi ini terus lestari dan bisa bertahan di era perkembangan zaman yang semakin pesat. "Semoga anak cucu bisa terus melestarikan tradisi ini," tambah Haryono. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo