Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Sempat Rp 70 Ribu per Kilogram, Kini Harga Kopi di Temanggung Turun, Laba Petani Mepet

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 11 Agustus 2025 | 17:03 WIB
Petani kopi di Kabupaten Temanggung saat panen petik merah beberapa waktu lalu.
Petani kopi di Kabupaten Temanggung saat panen petik merah beberapa waktu lalu.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Sejumlah petani kopi di Kabupaten Temanggung mengeluhkan turunnya harga kopi dalam beberapa pekan terakhir.

Harga yang sebelumnya sempat mencapai Rp 70.000 per kilogram, kini hanya berada di kisaran Rp 47.000 hingga Rp 50.000.

Samadi, petani kopi asal Kandangan, mengaku, penurunan harga ini cukup berdampak pada pendapatan petani. Meski kualitas kopi robusta Temanggung masih terjaga, harga jual yang lebih rendah membuat keuntungan tidak sebesar tahun sebelumnya.

Menurutnya, harga kopi jenis robusta tahun ini jauh di bawah tahun kemarin.

"Kalau sekarang cuma Rp 47 ribu, sampai Rp 50 ribu per kilo. Tahun kemarin sampai Rp 70 ribu. Harapannya ya stabil minimal di Rp 70 ribu sampai Rp 75 ribu,” ujarnya, Minggu (10/8/2025).

Samadi menjelaskan, sebagian besar kopi yang dihasilkan petani di wilayahnya adalah robusta. Kualitasnya, menurut Samadi, relatif baik karena mayoritas petani sudah mempraktikkan panen petik merah.

Buah kopi dipanen dalam kondisi matang penuh dan dijemur hingga benar-benar kering.

“Kalau dari petani, kualitasnya lebih bagus. Seratus persen kering. Cuma kalau yang diborong tengkulak, biasanya kualitasnya kurang bagus,” jelasnya.

Selain itu, Samadi menyayangkan fenomena ijo atos atau memanen kopi dalam kondisi belum matang. Menurutnya, praktik ini sempat marak sekitar setengah bulan lalu, terutama oleh para penebas atau tengkulak yang membeli langsung dari kebun.

“Itu biasanya mereka tebas langsung dihabiskan walau masih hijau. Tahun ini banyak yang rugi karena hal itu,” ungkapnya.

Meski begitu, harga kopi saat ini masih dianggap layak oleh pemerintah daerah. Karena masih di atas harga pokok penjualan (HPP) Rp 50.000 per kilogram. "Karena sekarang sedang panen raya robusta di beberapa daerah.

Sehingga hukum supply-demand berlaku. Stok banyak maka harga cenderung turun. Tapi secara ekonomi, harga Ro 50 ribu per kilogram itu masih menguntungkan bagi petani," terang Kepala DKPPP Temanggung, Joko Budi Nuryanto.

Joko menegaskan, agar petani memanen kopi dalam kondisi matang alias petik merah. Pasalnya, hal itu memengaruhi kualitas dan cita rasa kopi. Menurutnya, jika biji kopi belum matang dipanen, cenderung menyerap lebih banyak rasa asam.

"Jadi pemerintah daerah ingin agar petani tetap melakukan good handling. Yakni memetik buah kopi yang sudah merah dan menjemur dengan baik agar kualitas kopi tetap terjaga,” tegasnya.

Ditambahkan, Kabupaten Temanggung memiliki potensi lahan kopi seluas 12.000 hektare. Dari total tersebut, sekitar 8.000 hektare di antaranya merupakan lahan produktif yang setiap tahun menghasilkan sekitar 6.000 ton kopi.

 "Kami perkirakan untuk full panen kopi sekitar 8.000 hektare dengan hasil bersih 6.000 ton kopi. Itu termasuk tinggi," tambah Joko. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#petani #DKPPP temanggung #Harga Kopi #turun #Joko Budi Nuryanto #Kopi Temanggung