Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Membanggakan! Tradisi Sadranan 1.000 Kupat Kali Lenging Temanggung Diakui sebagai Warisan Budaya oleh Kementerian Kebudayaan

Devi Khofifatur Rizqi • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 01:01 WIB
Warga desa berebut gunungan dan kupat untuk ngalap berkah dalam tradisi sadranan Kali Lenging di Desa Ngemplak, Kandangan.
Warga desa berebut gunungan dan kupat untuk ngalap berkah dalam tradisi sadranan Kali Lenging di Desa Ngemplak, Kandangan.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Tradisi Sadranan Kali Lenging atau dikenal dengan ritual 1.000 Kupat di Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, resmi mendapat pengakuan dari Kementerian Kebudayaan sebagai warisan budaya.

Kepala Desa Ngemplak, Sri Astu Widi Subagyo, menyampaikan, sertifikat dari Kementerian Kebudayaan tersebut diserahkan melalui Bappeda mewakili Provinsi Jawa Tengah.

"Ini bukan hanya dokumentasi, tapi juga bentuk pengakuan bahwa tradisi kita tidak liar dan sudah diakui oleh Kementerian Kebudayaan. Semoga ini menjadi motivasi untuk terus melestarikan tradisi warisan leluhur," kata Sri Astu, Jumat (1/8/2025).

Sri Astu juga menyampaikan terima kasih kepada warga Gedongan dan masyarakat sekitar yang telah ikut menjaga dan melestarikan tradisi ini.

"Harapannya (tradisi) tidak hanya dikenal secara nasional, tapi juga bisa go internasional,” ujarnya.

Dengan adanya pengakuan dari pemerintah pusat, Desa Ngemplak berharap tradisi ini tidak hanya dieling (diingat) saja, tapi juga dicatat dan dibukukan sebagai warisan budaya untuk anak cucu di masa depan.

Tradisi 1.000 Kupat ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Kiai Lenging, tokoh leluhur yang berjasa membuka saluran irigasi di kawasan hutan rakyat, yang kini dikenal sebagai Kali Lenging. 

Dalam cerita turun-temurun, mbah putri alias istri dari Kiai Lenging bahkan digambarkan memiliki kesaktian membuka jalur air dengan selendangnya, sebagai wujud kepedulian terhadap kebutuhan air warga.

Dari sinilah kupat menjadi simbol perjuangan. Dulu, tiap hari saat membuka lahan dan menggali saluran air, Mbah Kiai Lenging hanya membawa sebungkus kupat sebagai bekal.

“Air ini untuk kepentingan rumah tangga dan pertanian, maka harus dirawat. Jangan serakah, gunakan secukupnya dan jangan lupa berbagi dengan warga desa sekitar.

Ini juga warisan dari Mbah Lenging untuk warga,” pesan Sri Astu kepada masyarakat.

Acara rebutan 1.000 kupat diikuti 1.500 warga dari Ngemplak dan desa sekitarnya. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun. 

Selain sebagai bentuk syukur dan pelestarian budaya, juga dipercaya membawa berkah. Misalnya, siapa pun yang mendapatkan kupat atau hasil panen dari acara ini, diyakini hasil tanamannya akan tumbuh subur.

“Rebutan ini bukan sekadar ramai-ramai, tapi juga ngalap berkah atas perjuangan Mbah Kiai Lenging. Harapannya, hasil pertanian bisa maksimal,” ungkap Adi, salah satu warga. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#ngemplak #warisan budaya #Kementerian Kebudayaan #sadranan kali lenging #Kandangan #ritual 1000 kupat #temanggung