RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Sebuah prosesi sakral dan bersejarah berlangsung di Parakan, Kabupaten Temanggung.
Perjuangan para kiai dalam melawan penjajah tergambar jelas dalam reka adegan penyepuhan bambu runcing. Momen tersebut mengingatkan masyarakat terhadap nilai sejarah yang sarat makna.
Bambu runcing menjadi senjata para pejuang dalam melawan penjajah di Indonesia.
Salah satunya terdapat tradisi penyepuhan di Kauman, Kecamatan Parakan, Temanggung.
Dulu, prosesi awal penyepuhan bambu runcing dipimpin KH Subkhi yang merupakan kiai karismatik di Parakan, Temanggung.
Sosok tersebut menyepuh bambu secara spiritual sebelum digunakan pasukan pejuang yang mayoritas santri sebelum bertempur di berbagai medan laga kala itu.
"Ini untuk mengingatkan kembali bahwa penyepuhan bambu runcing pertama kali itu ada di sini dilakukan KH Subkhi," jelas Nursaf Alfik, ketua panitia Parade Muharram Bambu Runcing.
Usai bambu runcing disepuhkan oleh KH Subkhi, lalu digunakan para pejuang dalam pertempuran melawan Jepang di Magelang dan pertempuran Lima Hari di Semarang.
Setelah itu, sosok KH Subkhi semakin terkenal. Bahkan, laskar pejuang dari berbagai daerah di Indonesia, rela datang ke Parakan, Temanggung, untuk menyepuhkan bambu runcingnya.
Dalam sehari, Kiai Subkhi mampu melayani hingga 10.000 bambu runcing milik pejuang.
"Saat ramai pejuang yang mau menyepuhkan bambu runcingnya, Mbah Kiai Subkhi sudah usia 90 tahun. Jadi tidak bisa melayani semuanya. Lalu tahap dua penyepuhan diserahkan ke kiai-kiai di sekitar Parakan," terang Alfik.
Pada tahap dua penyepuhan ini, terdapat hal berbeda dalam prosesi spiritualnya. Itu berupa tambahan dua elemen berupa nasi legi dan banyu wani.
Nasi legi merupakan beras ketan yang dimasak dengan gula merah dan menjadi lambang hati yang rela dan niat yang ikhlas.
Nasi itu disiapkan KH Abdurrahman dan disuapkan langsung kepada para pejuang.
Sementata banyu wani menjadi simbol keberanian yang bersumber dari iman dan lahir dari jiwa yang telah dibersihkan oleh zikir. Air tersebut diambil dari sumur milik Kiai Subkhi.
"Karena saking banyaknya orang yang datang, air sumur di rumah mbah kiai tidak mencukupi. Jadi mengambil air di sumur-sumur sekitar di kampung Kauman, Parakan, ini," kata Alfik.
Alfik menyebut, prosesi penyepuhan tidak serta merta dilakukan sembarangan.
Terdapat doa-doa khusus yang dilantukan para kiai. Namun, dibalik heroisme tersebut, sosok Kiai Subkhi tidak ingin dikenang sebagai tokoh utama.
Dalam kerendahan hatinya ia menolak dianggap memiliki kesaktian. Lantaran takut manakala dianggap sesembahan. "Padahal kekuatan sejatinya hanya dari Allah bukan dsri bambu, nasi, atau air.
Dari ketawadhukan itu justru muncul karomah Mbah Kiai Subkhi," bebernya.
Kendati begitu, adanya napak tilas penyepuhan bambu ini diharapkan bisa menjadi momen penting bagi warga Parakan.
Terlebih, hal ini akan menjadi agenda tahunan setiap 1 Muharram. Sehingga, ada momen khusus yang bisa dikenang warga Temanggung mengenai sejarah dan perjuangan para kiai di Parakan.
"Kami ingin ada semangat yang tumbuh kembali. Jadi kami kemas prosesi ini hampir mirip dengan kejadian masa itu.
Bahkan kami tampilkan kiai-kiai pemeran di reka adegan ini merupakan dzuriyah dari Kiai Subkhi," kata Alfik.
Usai reka adegan prosesi penyepuhan bambu runcing, diadakan pawai yang diikuti warga Parakan. Mereka berkeliling memakai kostum pejuang dan membawa bambu runcing.
"Ini sebagai simbol dan pengingat. Bahwa Parakan juga punya andil pada masa perjuangan melawan penjajah," tandas Alfik. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo