RADARMAGELANG.ID, Temanggung -Seorang santriwati berinisial F curhat di media sosial karena mendapat perlakuan bullying di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Temanggung. Video itu viral dan mendapat berbagai respon dari masyarakat.
Dalam video berdurasi satu menit 15 detik, remaja 13 tahun itu bercerita terkait perlakuan bullying yang dilakukan pengurus ponpes.
Ia mengaku disekap dan mendapat kekerasan fisik. Bahkan usai kejadian, F alias korban harus dirawat di rumah sakit.
Kejadian itu dibenarkan Mamik Soyanita, ibu korban. "Anak saya cerita, kalau ditampar dan dilempar buku oleh ketua kamar yang tidak percaya bahwa anak saya ini sakit," ungkapnya saat dihubungi Sabtu (3/5/2025).
Mamik menerangkan, usai anaknya ditampar oleh oknum pengurus ponpes itu, kemudian korban disuruh untuk minta maaf hingga menangis. Padahal putrinya tidak bersalah.
“Anak saya tidak melakukan kesalahan apapun. Cuma ketua kamar tidak percaya bahwa anak saya benar-benar sakit,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menceritakan, pihak pondok memberikan kabar pada Senin (28/4) pukul 01.00 dini hari. Saat itu, korban harus opname karena sesak nafas. Namun, sudah ditangani oleh pengurus kamar dan dibawa ke RSUD Temanggung.
“Karena mau mengejar tes pada Senin (28/4/2025), saya kemudian mengantarnya pada Minggu (27/4/205) sore. Tapi di pondok anak saya tidak diperhatikan oleh pengurus kamar,” jelasnya.
Karena harus kontrol di rumah sakit, dia menjemput kembali putrinya dan diantar ke pondok lagi namun tidak dirawat.
“Ternyata setelah itu ada kejadian anak saya ditampar dan dilempar buku itu, anak saya telepon minta pulang karena sakit,” katanya.
Menurutnya, putrinya sudah tidak betah di ponpes yang berada di wilayah Tembarak. Kemudian setibanya di rumah, korban menangis dan tidak mau bicara.
"Dia trauma dan ketakutan karena mendapat perlakuan tidak baik itu. Baru beberapa hari setelah kejadian, anak saya mau cerita tentang apa yang sudah dialami di pondok.
Anak saya sampai sekarang masih trauma. Padahal harapan saya kenapa dipondokkan di dekat rumah karena mau menjadi tahfidz Quran dan sekolah,” lanjutnya.
Mamik menambahkan, selama ini putrinya mengaji dan belajar di ponpes dengan baik. Sehingga dia heran, putrinya diperlakukan seperti itu.
Selain itu, hasil diagnosis rumah sakit menyebut bahwa korban mengalami sesak nafas dan asma.
“Semoga ini kejadian terakhir dan tidak terulang kembali pembullyan di lingkungan pondok,” tandasnya.
Terpisah, Plt Kasi Pondok Pesantren Kemenag Temanggung Zaeni menyebut, kejadian ini masih dalam investigasi Kemenag Temanggung. Pihaknya mendapat kabar ada kejadian bullying di ponpes pada Jumat (2/5/2025) kemarin.
"Nuwun sewu Mbak, untuk info adanya bullying baru kami ketahui. Kami insya Allah coba lacak untuk ponpes bersangkutan. Saat ini masih kami lakukan investigasi untuk kasusnya," katanya dalam pesan singkat saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Magelang. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo