RADARMAGELANG.ID, Temanggung -Sebanyak 81 keris dari tokoh-tokoh di Kabupaten Temanggung dipamerkan dalam Syawalan Pusaka Bumi Phala, Sabtu (19/4/2025). Terdapat pusaka tertua dari zaman Kerajaan Singasari.
Puluhan keris berjajar rapi di ruang pameran Aula Gedung KONI Temanggung. Pameran pusaka ini berlangsung selama dua hari (19-20/4/205).
Ketua Pamerti Keris Antik Nusantara (Pikatan) Temanggung, Sri Hariyadi menjelaskan, keris yang dipamerkan tidak sembarangan.
Merupakan benda pusaka yang dimiliki tokoh-tokoh di Kabupaten Temanggung. Selain itu, keris tersebut harus memiliki nilai seni dan estetika.
"Ini Syawalan Pusaka karena masih dalam rangka halalbihalal. Selain itu menjadi upaya edukasi ke masyarakat Temanggung, bahwa keris itu warisan budaya bukan benda klenik," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Pameran diikuti komunitas keris dari berbagai daerah. Yakni Temanggung, Rembang, Bantul, Sleman, Jogjakarta, Purwokerto, Kendal, dan Semarang.
"Syawalan ini baru pertama kali. Tapi untuk pameran, Pikatan Temanggung sudah sering ikut ke daerah lainnya. Yang dipamerkan ada 81 keris dari tokoh-tokoh," kata Hariyadi.
Salah satu kolektor keris, Eko Suwarno mengaku, ada daya tarik tersendiri dalam pameran keris. Kolektor dari Rembang ini memiliki lebih dari 3.000 koleksi keris. Yang termahal seharga Rp 5 miliar karena memiliki nilai estetika tinggi dan langka.
"Karena ada berlian dan emasnya juga. Saya juga punya keris tertua dari Kerajaan Singasari. Di pameran ini juga menjual keris koleksi saya," ujarnya.
Sementara Ketua DPRD Temanggung Yunianto mengajak masyarakat untuk melestarikan warisan budaya ini.
Keris menjadi identitas bangsa Indonesia yang diakui UNESCO. Makanya, ia ingin generasi muda ikut serta nguri-uri budaya ini.
"Benda pusaka ini merupakan warisan budaya. Dan harus dilestarikan generasi muda juga," ajaknya.
Yunianto menambahkan, benda pusaka juga menjadi piranti untuk mengungkapkan rasa syukur.
Itu melalui nilai keindahan, artistik, seni, dan budaya. Ia berharap, pameran pusaka itu terus berlanjut.
"Keris itu ageman para leluhur. Makanya warisan budaya harus dijaga agar tidak diklaim oleh yang lain," tambahnya. (dev/lis).
Editor : Lis Retno Wibowo