RADARMAGELANG.ID, Temanggung—Rasa bahagia dan haru menyelimuti hati Mbah Suryono, 86, warga Dusun Ngadiroso, Desa Wonokerso, Kecamatan Pringsurat.
Kakek paro baya ini akhirnya bisa memiliki rumah yang layak setelah mendapat bantuan dari gerakan kemanusiaan yang dipelipori oleh Suhu Pushan.
Sebelumnya, kondisi rumah Mbah Suryono sangat memprihatinkan.
Rumahnya masih terbuat dari gedek (anyaman bambu) dan hampir ambruk.
Rumah itu rupanya dihuni oleh Mbah Suryono dan anaknya bernama Amin.
Selama 10 tahun ini, Mbah Suryono dan anaknya yang penyandang disabilitas terabaikan oleh pemerintah.
Tidak ada bantuan maupun uluran tangan pemerintah untuk membantunya.
"Pak Amin anak Mbah Suryono ini lumpuh. Jadi, tidak bisa berbuat banyak. Dan rumah ini sudah tidak layak huni, makanya kami akan merenovasinya," kata Eko, Ketua Pemuda Dusun Ngadiroso, Sabtu (5/4/2025).
Dikatakan, renovasi rumah tersebut merupakan bagian dari gerakan kemanusian yang dipelopori oleh Suhu Pushan, tokoh Budha dari Kaloran-Temanggung.
Pasalnya, selama ini Mbah Suryono terabaikan oleh pemerintah.
"Sudah 10 tahun ini tidak ada pemerintah yang memperhatikan. Jadi, rumah Mbah Suryono hampir ambruk dan tidak layak ditinggali," kata Eko.
Suhu Pushan mengatakan, gerakan kemanusiaan ini bukan sekadar membangun rumah. Tetapi membangun kepedulian terhadap sesama.
Ia berharap, inisiatif tersebut bisa menginspirasi masyarakat untuk saling peduli dan melakukan aksi nyata.
"Kami berharap inisiatif ini dapat menginspirasi daerah lain untuk melakukan aksi nyata dalam membantu mereka yang membutuhkan," ujarnya.
Adapun rumah Mbah Suryono akan direnovasi secara bertahap.
Selain itu, bangunan rumah akan disesuaikan dengan kondisi anak Mbah Suryono yang disabilitas.
Hal itu untuk kemudahan beraktivitas.
Proses renovasi juga dilakukan gotong royong bersama warga sekitar.
"Semoga gerakan ini bisa membuktikan bahwa solidaritas sosial masih hidup dan bisa menjadi solusi nyata ketika birokrasi belum hadir," tambah Suhu Pushan. (dev/aro)
Editor : H. Arif Riyanto