RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Banyak petani yang tidak memperhatikan kualitas kopi. Padahal harga di pasaran kopi Temanggung cukup tinggi.
Hal ini dirasakan petani dan roaster kopi dari Desa Muncar Kecamatan Gemawang, Sarwadi.
Menurutnya, banyak petani kopi yang lalai dengan kualitas meski harga kopi naik signifikan.
"Karena sekarang ini banyak yang ingin ambil untung cepat tapi lupa mempertahankan kualitas kopi. Jadi mereka lebih suka menjual kopi asalan atau buah kopi yang belum matang sempurna itu," kata Sarwadi.
Ia mengatakan, harga kopi asalan saat ini Rp 70.000 per kilogram. Sedangkan selisih harga dengan kopi petik merah yang berkualitas hanya sekitar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram.
"Buah kopi yang belum matang sempurna itu tidak memenuhi standar grading kualitas kopi. Ini berbeda jauh dengan sistem petik merah yang selama ini menjadi kebanggaan Temanggung," ujarnya.
Jika kondisi itu terus berlangsung, lanjut Sarwadi, maka kualitas kopi dari Kabupaten Temanggung terancam menurun secara masal.
"Jadi perlu kesadaran dan dukungan bersama dari petani, pemerintah daerah, maupun pelaku industri kopi. Supaya identitas kopi Temanggung yang terkenal karena keunggulan sistem petik merahnya ini tidak hilang," tambah Sarwadi.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Joko Budi Nuryanto mengingatkan, para petani harus menjaga kualitas kopi meskipun harga sedang tinggi.
"Kualitas kopi harus dipertahankan. Jangan sampai karena harga jual kopi mahal, petani tidak lagi peduli dengan kualitas kopi," tegasnya.
Dikatakan, kopi Temanggung tidak hanya diminati pasar lokal. Tetapi juga ekspor ke luar negeri.
Maka, pemerintah daerah berusaha membantu petani dalam menjaga kualitas. "Yang paling penting menjaga kepercayaan konsumen. Itu melalui kualitas kopi yang bagus," tandasnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo