RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Temanggung memiliki nakhoda baru.
Dalam Konferensi Pengurus Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Temanggung tahun 2024 yang digelar Minggu (29/12/2024), secara aklamasi, KH. Muchamad Nurul Yaqin dipilih sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Temanggung periode 2025-2030. Sedangkan KH. Furqon Mashuri menjadi Rois Syuriah.
“Saya ingin membawa PCNU Temanggung lebih maju, modern, dan maslahat. Serta menjaga tradisi ahlussunnah waljamaah dengan tetap menegakkan nilai-nilai Islam yang moderat dan damai,” ujar Gus Nurul usai konfercab yang berlangsung di kompleks Kampus Hijau Inisnu Temanggung tersebut.
Gus Nurul membawa visi mewujudkan NU Temanggung maju, modern, dan maslahat.
"Maju di sini, menunjukkan optimisme secara keseluruhan dalam seluruh kehidupan nahdliyin di Temanggung," kata Pengasuh Pesantren Karang Santri tersebut.
Sedangkan visi modern, dijabarkan sebagai optimisme beradaptasi dengan perkembangan zaman, teknologi digital, metode dan pendekatan kontemporer.
“Apalagi saat ini era AI dengan tetap memegang prinsip al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik,”tegas Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Temanggung periode 2019-2024 tersebut
Lanjut dia, makna maslahat, adalah membawa manfaat dan dampak positif bagi Nahdliyin dan masyarakat luas di Kabupaten Temanggung.
"Harapannya, maslahat ini terwujud melalui aspek pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, maupun spiritual," harap dia.
Dari visi tersebut diterjemahkan secara rinci ke dalam sembilan misi dan rencana strategis.
Adapun, sembilan misi terjemahan dari visi yang diusung Gus Nurul yakni pertama, peningkatan tata kelola dan profesionalisme perkumpulan NU.
Kedua, penguatan SDM, dan kaderisasi berbasis ahlussunnah waljamaah annahdliyah.
Ketiga, penguatan pendidikan melalui sekolah, madrasah, perguruan tinggi NU, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan.
Keempat, peningkatan peran NU dalam sosial-kemasyarakatan.
Kelima, pengembangan ekonomi umat berbasis kemandirian. Keenam, pengembangan dakwah inklusif, kontekstual, dan digital.
Ketujuh, penguatan basis dan struktur organisasi di semua tingkatan NU. Kedelapan, penguatan sinergitas dengan pemerintah dan stakeholders.
Kesembilan, pelestarian tradisi Islam aswaja, tradisi pesantren, dan seni budaya.
Pihaknya mengaku membutuhkan masukan, saran dan ide-ide dari semua kalangan untuk menjalankan amanat yang diembannya tersebut. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo