RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Bukan ASN biasa. Pernyataan itu cocok ditujukan untuk Tri Raharjo.
Sehari-hari ia menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Temanggung.
Namun di sela kesibukannnya sebagai pegawai, Tri adalah seniman produktif.
Tepatnya, seorang perupa yang sudah banyak menghasilkan karya lukisan.
Sejumlah lukisan tampak dipajang di ruang kantornya. Lukisan-lukisan tersebut didominasi warna biru.
Usut punya usut pria berusia 54 tahun ini tidak menggunakan media umumnya seperti kanvas atau akrilik.
“Lukisan ini dipamerkan di acara Magelang Parekraf Fair di Magelang belum lama ini,”ujarnya sembari menunjukkan lukisannya.
Tri menemukan media khusus yang unik dan tidak terpikirkan oleh orang awam. Ia menggunakan media sampluk alias sampak umpluk.
Dijelaskan dia, sampah umpluk adalah residu dari pengolahan tanaman Stobilantes Cusia Indigo Viera yang dipakai sebagai pewarna alami wastra.
Sampah ini biasanya dibuang begitu saja, namun berkat tangan dinginnya, menjadi sebuah karya yang indah dan bernilai jual.
Dikatakan Tri, sampluk juga bermakna memukul atau menampar.
“Memukul kita untuk menyadarkan bahwa setiap sampah itu ada manfaatnya bila diperlakukan dengan baik.
Sampah akan menjadi income,”papar mantan staf ahli bupati bidang pemerintah, hukum dan lingkungan hidup ini.
Media sampluk ini belum lama ditemukan. Seperti seniman lain, ia juga melukis dengan berbagai media.
Di kalangan Pemkab Temanggung, mantan Camat Gemawang ini dikenal sebagai pelukis yang produktif.
Karya-karyanya banyak diminati pecinta seni. Bahkan sampai luar Jawa. Seperti Aceh, Riau, Kalimantan, dan kota-kota lain.
Terlebih alumni STPDN Jatinangor ini memiliki jaringan perkawanan yang luas seantero negeri. Tak heran bila lukisannya tersebar di banyak kota di Indonesia.
Sedangkan di Temanggung dua karyanya yang dibeli Pj Bupati Temanggung Hary Agung Prabowo, kini dipajang di Pendopo Pengayoman.
“Satu lukisan tentang tembakau dan satu lagi tentang kopi dibeli dengan harga puluhan juta,”tutur pria yang berulang tahun setiap tanggal 23 Desember tersebut.
Tak hanya itu, ia juga langganan mendapat pesanan membuat lukisan wajah untuk cenderamata bagi pejabat yang pindah tugas atau memasuki pensiun.
Beberapa kali suami dari Eryna Nuursanti Dewi itu berpameran bersama komunitasnya, Catec (Cah Temanggung Creative).
Melukis sudah menjadi rutinitas hariannya. Biasanya di atas jam 22.00, ia mulai bekerja. Menuangkan kreativas di atas media lukis. Obsesinya memiliki galeri seni yang menampung semua karyanya.
"Saya targetkan setiap hari harus melukis. Bukan harus menghasilkan berapa lukisan tapi harus melukis,"imbuh Tri yang memiliki andil dalam mendesain atribut-atribut STPDN. Maklum ia mahasiswa angkatan pertama kala itu.
Tak hanya melukis, Tri juga aktif menulis buku. Baginya hidup itu harus olahraga, olah pikir dan olah rasa sehingga akan seimbang. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo