RADARMAGELANG.ID-Temanggung merupakan daerah di Jawa Tengah penghasil salah satu tembakau terbaik di Indonesia.
Daerah ini juga menjadikan tanaman tembakau sebagai komoditas utama.
Tak heran jika banyak merek rokok terkenal di Indonesia yang mengembangkan lahan tembakau di kota ini.
Tak hanya rokok, ada juga pabrik cerutu yang beroperasi di kota ini yang sudah eksis sejak lebih dari seabad lalu.
Salah satu perusahaan cerutu tertua di Indonesia yang beroperasi di Temanggung adalah pabrik milik Ho Tjong An dengan nama pabrik Rizona.
Ho Tjong An berasal dari Tungkwan, sebuah kabupaten di Provinsi Shaanxi, Tiongkok pada tahun 1841.
Kisah Ho Tjong An dalam menjalankan usahanya merupakan cerminan dari semangat kewirausahaan dan adaptasi di tengah perkembangan zaman.
Ia memulai karir sebagai kontraktor sukses yang sudah terlibat di berbagai proyek, termasuk kereta api jalur Parakan-Secang dan perumahan pegawai Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS).
Keterlibatannya dalam proyek-proyek tersebut memperkuat posisinya di masyarakat lokal.
Melihat adanya potensi industri tembakau, Ho Tjong An tertarik menggeluti industri cerutu.
Pada awalnya, ia mendatangkan 40 pekerja asal Filipina untuk bekerja di pabriknya di Temanggung. Namun, karena perbedaan iklim dan budaya, para pekerja tersebut merasa tak betak dan memutuskan untuk pulang ke Filipina.
Ho Tjong An tentunya mengalami kerugian besar, tetapi ia tidak menyerah.
Koran lokal pada saat itu meliput peristiwa ini dengan narasi “Boeat apa toean Ho Tjong An menanggoeng keroegian lebih dari sepoeloeh riboe roepia, lkerna peroesaha’an itoe lantas dibrentiken, sementara semoea materiaal dijoeal dengan roegi”.
Ho Tjong An tetap percaya pada potensi industri cerutu.
Ia kemudian memulai usahanya kembali dari skala kecil, bekerja dengan tekun hingga pabriknya berkembang dan mempekerjakan sekitar 300 orang.
Pada 1916, ia bahkan membuka toko cerutu di Batavia.
Ia kemudian bekerja sama 8 orang rekannya dan mendirikan perusahaan bernama Ko Sin Tjan.
Sayangnya, perusahaan itu tutup pada 1923 karena adanya perpecahan antar pemilik saham.
Ho Tjong An kemudian melanjutkan usahanya secara mandiri dan mengubah nama pabrik menjadi Tjong An Ho.
Pada tahun 1933, ia mewariskan kepemimpinan perusahaan ke anaknya yakni Ho Thiam Hok (Sunardi Hartono).
Pada waktu itu, Ho Thiam Hok baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Lin Nang di Tiongkok.
Di bawah kepemimpinan Ho Thiam Hok, pabrik ini mengalami perkembangan pesat.
Ia merestrukturisasi perusahaan untuk menjadi lebih efisien dengan mengambil langkah strategis seperti mengimpor tembakau berkualitas tinggi dari Kuba dan Brazil.
Pada masa kejayaan inilah pabrik kemudian berganti nama menjadi Rizona.
Jumlah karyawan pada era ini juga melaju pesat dibanding masa kepemimpinan Ho Tjong An.
Perusahaan ini bahkan mampu mendirikan instalasi listrik pribadi sebelum adnya jaringan listrik dari ANIEM di Temanggung.
Dengan kemampuan produksi yang meningkat, Rizona mampu memproduksi antara 120 ribu hingga 150 ribu batang cerutu.
Pemasarannya juga meluas ke berbagai pulai mulair Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.
Menurut Direktur Rizona Baru Mulyadi Hartono, pabrik Rizona memiliki 750 pekerja aktif yang dibayar dengan layak, banyak buruh wanita yang memakai perhiasan emas di tangannya ( Geger Doorstood Perjuangan Rakyat Temanggung,1945-1950).
Namun, pada saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, pabrik ini mengalami penurunan.
Bisnis ini berada di titik terendah, produksi menurun, pesokan bahan baku terhenti, dan cukai semakin tinggi.
Perang dan revolusi membuat banyak bisnis serupa bangkrut, namun Rizona masih mampu bertahan.
Setelah melewati masa krisis, perusahaan cerutu ini berusaha bangkit kembali dengan memanfaatkan jaringan bisnis yang sudah ada.
Meskipun telah melewati masa-masa sulit, perkembangan bisnis Rizona tidak lagi secerah dulu.
Saat ini kapasitas produksi Rizona hanya 30 ribu batang per hari, atau hanya seperlima produksi pada masa puncak kejayaan di tahun 1930-an.
Pada 1990, kepemimpinan Rizona beralih ke Mulyadi Hartono, putra Ho Thiam Hok.
Pada saat itu, persaingan antar merek dan jenis rokok sangat ketat, ditambah adanya kampaye antitembakau yang menambah tekanan bagi Mulyadi dan Rizona.
Di tengah tantangan ini, pemilik generasi ketiga ini berusaha mempertahankan perusahaannya dengan nama baru, Rizona Baru.
Karakteristik tembakau khas Temanggung tidak cocok untuk produksi cerutu karena karakteristiknya yang tebal dan sulit digulung.
Oleh karena itu, Rizona "mengimpor" bahan baku dari Jawa Timur.
Pabrik Rizona Baru terletak di pusat Kabupaten Temanggung, tepatnya di Jalan Diponegoro, Gedongan, Kecamatan Temanggung.
Di pabrik ini sebagian besar buruhnya wanita berusia lanjut.
Pabrik ini masih memproduksi cerutu dengan tiga merek unggulan, yakni, Kenner King, Kenner Bollero, dan Havana.
Cerutu dikemas dalam kotak kertas yang didistribusikan ke berbagai kota di seluruh Indonesia.
Sebagian juga diekspor ke Taiwan.
Aroma khas cerutu produksi Rizona Baru ini juga digunakan untuk keperluan sembahyang warga Tionghoa.
Dengan rasa khasnya, pabrik Rizona Baru tetap bertahan hingga hari ini. (mg27/aro)
Editor : H. Arif Riyanto