RADARMAGELANG.ID--Temanggung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang dikenal sebagai "Kota Tembakau".
Julukan ini muncul dari sejarah panjang dan kualitas tembakau unggulan yang dihasilkan.
Luas tanaman tembakau di Kabupaten Temanggung setiap tahun berkisar antara 16.000 hingga 18.000 hektare.
Sementara kapasitas produksinya berada di angka sekitar 12.000 ton tembakau kering per tahun.
Tanaman tembakau tersebar di 14 dari 20 kecamatan di Kabupaten Temanggung, yakni Tretep, Wonoboyo, Candiroto, Ngadirejo, Parakan, Bansari, Kledung, Bulu, Tlogomulyo, Selopampang, Tembarak, Temanggung, Kedu dan Jumo.
Tanaman ini tidak hanya menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung, namun juga menjadi bagian dari kultur di kawasan Gunung Sumbing, Sindoro, dan Gunung Prau.
Bagi petani Temanggung, sudah menjadi semacam keharusan untuk menanam tembakau yang telah dianggap sebagai jiwa dan harga diri masyarakat Kabupaten Temanggung.
Bahkan hingga kini, di wilayah Temanggung sendiri tanaman tembakau belum tergantikan nilai ekonominya dengan komoditas yang lain.
Tak heran jika Kabupaten Temanggung mendapat julukan Kota Tembakau.
Berikut ini 5 alasan utama mengapa Temanggung mendapat julukan Kota Tembakau:
1. Kondisi Geografis Temanggung
Terletak di antara Gunung Sumbing dan Sindoro, tanah vulkanis Temanggung sangat subur dan kaya mineral.
Kondisi alam ini ideal untuk menanam tembakau, terutama varietas Srintil yang dianggap memiliki kualitas premium.
Ketinggian lahan serta iklim mikro di kawasan ini memberikan keunikan pada cita rasa tembakau yang dihasilkan.
2. Varietas Srintil sebagai Tembakau Premium
Tembakau Srintil adalah salah satu kebanggaan Temanggung.
Kualitasnya yang unggul menjadikannya incaran utama produsen rokok premium, terutama untuk kretek.
Srintil dianggap memiliki aroma dan rasa yang khas, membuatnya dikenal hingga pasar global.
Proses fermentasi alami yang dilakukan pada tembakau ini menjadikannya lebih spesial.
3. Budaya dan Kearifan Lokal dalam Budidaya
Petani di Temanggung tidak hanya mengandalkan alam, tetapi juga menggunakan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam pengolahan tembakau.
Setiap tahapan, mulai dari penanaman, pemanenan, hingga pengeringan, dilakukan dengan teknik tradisional.
Ini tidak hanya menjaga kualitas tembakau, tetapi juga menjadikan proses tersebut bagian dari identitas budaya masyarakat.
4. Pilar Ekonomi Masyarakat Lokal
Tembakau menjadi salah satu komoditas utama yang menopang perekonomian Temanggung.
Mayoritas masyarakat bergantung pada sektor pertanian tembakau, dari petani hingga pedagang.
Hasil tembakau yang dipanen masyarakat Temanggung selanjutnya disuplai ke pabrik rokok terbesar di Indonesia, yaitu PT Djarum, PT Gudang Garam, PT Nojorono dan PT Wismilak.
Setiap musim panen tembakau, terjadi peningkatan aktivitas ekonomi di daerah ini, mulai dari pasar lokal hingga perdagangan antar wilayah.
Bahkan, sebagian besar hasil panen diekspor ke berbagai negara.
5. Sejarah Panjang Produksi Tembakau
Sejak masa kolonial, Temanggung telah dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas tinggi.
Di era Belanda, tembakau dari wilayah ini menjadi salah satu komoditas ekspor utama ke Eropa.
Reputasi sebagai penghasil tembakau terbaik masih bertahan hingga kini, menjadikan Temanggung sebagai salah satu pusat industri tembakau terpenting di Indonesia.
Temanggung mendapatkan julukan sebagai Kota Tembakau karena peran pentingnya dalam produksi tembakau berkualitas tinggi yang mendukung perekonomian lokal.
Tembakau tidak hanya menjadi mata pencaharian utama masyarakat, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya Temanggung. (mg20/aro)
Editor : H. Arif Riyanto